Jumat, 03 Januari 2014

Pengertian Korosi dan Jenis-jenis Korosi


Korosi (Kennet dan Chamberlain, 1991) adalah penurunan mutu logam akibat reaksi elektro kimia dengan lingkungannya. Korosi atau pengkaratan merupakan fenomena kimia pada bahan – bahan logam yang pada dasarnya merupakan reaksi logam menjadi ion pada permukaan logam yang kontak langsung dengan lingkungan berair dan oksigen. Contoh yang paling umum, yaitu kerusakan logam besi dengan terbentuknya karat oksida. Dengan demikian, korosi menimbulkan banyak kerugian.


Korosi logam melibatkan proses anodik, yaitu oksidasi logam menjadi ion dengan melepaskan elektron ke dalam (permukaan) logam dan proses katodik yang mengkonsumsi electron tersebut dengan laju yang sama : proses katodik biasanya merupakan reduksi ion hidrogen atau oksigen dari lingkungan sekitarnya.
Korosi merupakan proses atau reaksi elektrokimia yang bersifat alamiah dan berlangsung dengan sendirinya, oleh karena itu korosi tidak dapat dicegah atau dihentikan sama sekali. Korosi hanya bisa dikendalikan atau diperlambat lajunya sehingga memperlambat proses perusakannya. Dilihat dari aspek elektrokimia, korosi merupakan proses terjadinya transfer elektron dari logam ke lingkungannya. Logam berlaku sebagai sel yang memberikan elektron (anoda) dan lingkungannya sebagai penerima elektron (katoda). Reaksi yang terjadi pada logam yang mengalami korosi adalah reaksi oksidasi, dimana atom-atom logam larut kelingkungannya menjadi ion-ion dengan melepaskan elektron pada logam tersebut. Sedangkan dari katoda terjadi reaksi, dimana ion-ion dari lingkungan mendekati logam dan menangkap elektronelektron yang tertinggal pada logam.


Faktor yang mempengaruhi korosi :
Ø  Jenis dan konsentrasi elektrolit
Ø  Adanya oksigen terlarut pada elektrolit
Ø  Temperatur tinggi
Ø  Kecepatan gerakan elektrolit
Ø  Jenis logam/paduan
Ø  Adanya galvanic cell
Ø  Adanya tegangan (tarik)

JENIS – JENIS KOROSI
1.    Korosi Intergranular
Korosi intergranular adalah bentuk korosi yang terjadi pada paduan logam akibat terjadinya reaksi antar unsur logam tersebut di batas butirnya. Seperti yang terjadi pada baja tahan karat austenitik apabila diberi perlakuan panas. Pada temperatur 425 – 815 oC karbida krom (Cr23C6) akan mengendap di batas butir. Dengan kandungan krom dibawah 10 %, didaerah pengendapan tersebut akan mengalami korosi dan menurunkan kekuatan baja tahan karat tersebut. Korosi intergranular terjadi pada daerah tertentu dengan penyebab grain boundary. Hal ini disebabkan oleh adanya kekosongan unsur/elemen pada kristal ataupun impurities dari proses casting. Korosi ini terjadi pada casting and welding.

Adapun cara pencegahan adalah sebagai berikut :
    Casting
Pada proses ini harus dilakukan dengan jalan mengecor logam dengan step yang benar, komposisi yang benar dan pendinginan yang benar sesuai dengan karakteristik masing – masing logam dan kegunaannya
    Welding
Pemilihan elektrode yang benar, prosedur pengelasan yang benar, pendinginan yang benar



Pencegahan Korosi Intergranular
Casting, pada proses ini harus dilakukan dengan jalan mengecor logam dengan step yang benar, komposisi yang benar dan pendinginan yang benar sesuai dengan karakteristik masing – masing logam dan kegunaannya Welding, pemilihan elektrode yang benar, prosedur pengelasan yang benar, pendinginan yang benar

2.    Korosi Erosi
Korosi erosi adalah korosi yang terjadi pada permukaan logam yang disebabkan aliran fluida yang sangat cepat sehingga merusak permukaan logam dan lapisan film pelindung. Korosi erosi juga dapat terjadi karena efek-efek mekanik yang terjadi pada permukaan logam, misalnya : pengausan, abrasi dan gesekan. Logam yang mengalami korosi erosi akan menimbulkan bagian-bagian yang kasar dan tajam. Akibat gesekan antara fluida dengan logam sehingga logam tergerus dengan percepatan atau penambahan keburukan sifat material karena gerakan relatif antara fluida korosif dan permukaan metal. Korosi erosi dibagi menjadi 2 tipe yaitu ;
    Korosi Kavitasi: Akibat adanya benturan gelembung fluida dengan permukaan logam sehingga berakibat luka terhadap permukaan logam tersebut
    Fretting Corrosion: Akibat gesekan antara logam dengan logam dan berakibat suhu logam naik dan tergerus sesama logam.
Tipe Media Korosif antara lain gas, larutan encer, sistem organik, metal cair dan semua tipe peralatan yang diekspos fluida (piping system, katup, pompa dan propeller). Dan cara pencegahannya secara global antara lain menggunakan material dengan ketahanan korosi yang baik, perancangan (design) yang baik, coating dan cathodic protection.


Mekanisme Pembentukan Korosi Erosi
Proses terjadinya korosi secara umum adalh melalui beberapa tahap berikut :
a.    Pada tahap pertama terjadi serangan oleh gelembung udara yang menempel di permukaan lapisan pelindung logam, karena adanya aliran turbulen yang melintas di atas permukaan logam tersebut.
b.    Pada tahap kedua gelembung udara tersebut mengikis dan merusak lapisan peindung.
c.    Pada tahap ketiga, laju korosi semakin meningkat, karena lapisan pelindung telah hilang. Logam yang berada di bawah lapisan pelindung mulai terkorosi, sehingga membentuk cekungan, kemudian terjadi pembentukan kembali lapisan pelindung dan logam, menjadi tidak rata. Bila aliran terus mengalir, maka akan terjadi serangan kembali oleh gelembung udara yang terbawa aliran. Serangan ini akan mengikis dan merusak lapisan pelindung yang baru saja terbentuk, rusaknya lapisan pelindung tersebut akan mengakibatkan serangan lebih lanjut pada logam yang lebih dalam sampai membentuk cekungan.
Contoh Korosi Erosi
1)    Korosi Erosi pada sambungan pipa
2)    Korosi Erosi pada washing machine

Pengendalian Korosi Erosi
Pengendalian korosi erosi dapat dilakukan dengan cara :
a.    Mengurangi kecepatan aliran fluida untuk mengurangi turbulensi dan tumbukan yang berlebihan.
b.    Menggunakan kompenen yang halus dan rapi pengerjaannya, sehingga tempat pembentukan gelembung menjadi sesedikit mungkin
c.    Penambahan inhibitor atau passivator
d.    Menggunakan paduan logam yang lebih tahan korosi dan tahan erosi
e.    Proteksi katodik

3.    Serangan Selektif
Selective leaching adalah korosi yang terjadi pada paduan logam karena pelarutan salah satu unsur paduan yang lebih aktif, seperti yang biasa terjadi pada paduan tembaga-seng. Mekanisme terjadinya korosi selective leaching diawali dengan terjadi pelarutan total terhadap semua unsur. Salah satu unsur pemadu yang potensialnya lebih tinggi akan terdeposisi, sedangkan unsur yang potensialnya lebih rendah akan larut ke elektrolit. Akibatnya terjadi keropos pada logam paduan tersebut. Contoh lain selective leaching terjadi pada besi tuang kelabu yang digunakan sebagai pipa pembakaran. Berkurangnya besi dalam paduan besi tuang akan menyebabkan paduan tersebut menjadi porous dan lemah, sehingga dapat menyebabkan terjadinya pecah pada pipa.

Cara pencegahan
Proses dezincification dapat dikurangi dengan meminimalkan keganasan lingkungan atau dengan katodic protection. Penambahan 1% tin pada 70 – 30 brass, atau dengan penambahan arsenic, antimony, atau phosporus sebagai inhibitor Graphitization, dapat terjadi karena terdapat perbedaan graphit dan besi pada struktur logam. Dengan demikian sebagian Fe meninggalkan vacant pada struktur graphit logam.

4.    Korosi Retak Tegang (stress corrosion cracking)
Korosi retak tegang (stress corrosion cracking), korosi retak fatik (corrosion fatique cracking) dan korosi akibat pengaruh hidogen (corrosion induced hydrogen) adalah bentuk korosi dimana material mengalami keretakan akibat pengaruh lingkungannya. Korosi retak tegang terjadi pada paduan logam yang mengalami tegangan tarik statis dilingkungan tertentu, seperti : baja tahan karat sangat rentan terhadap lingkungan klorida panas, tembaga rentan dilarutan ammonia dan baja karbon rentan terhadap nitrat. Korosi retak fatk terjadi akibat tegangan berulang dilingkungan korosif. Sedangkan korosi akibat pengaruh hidogen terjadi karena berlangsungnya difusi hidrogen kedalam kisi paduan.
Stress corrosion cracking tidak akan ada kalau hanya ada stress atau hanya ada lingkungan korosif saja. Tipe korosi model SCC ini biasanya terjadi pada stainless steel. Hal ini disebabkan karena ketika terjadi korosi, pada permukaan logam terbentuk lapisan   corrosion product berupa Cr2O3 yang merupakan bahan keramik. Ketika ada stress,  maka lapis keramik tersebut tidak tahan sehingga pecah. Akibatnya,  permukaan logam tidak lagi terlapisi oleh keramik dan  terekspos kembali pada lingkungan yang korosif, sehingga kembali terkorosi dan membentuk lapisan oksida baru, yang selanjutnya pecah lagi oleh stress. Demikian seterusnya, sehingga terjadilah crack atau SCC yang dapat mengakibatkan pecahnya peralatan. Kegagalan peralatan begitu cepat dari sejak proses awal terjadinya SCC. Kecepatan perengkahan atau crack bisa mencapai kecepatan suara.

5.    Korosi Perapuhan Hidrogen (Hydrogen attack)
Kerusakan hidrogen di dalam material baja terjadiakibat atom-atom hidrogen ini bergabung menjadimolekul (H2) dan menyebabkan terjadinya regangan lokal. Jika kemudian gas H2 terperangkap di dalamcacat material seperti inklusi dan laminasi, maka gashidrogen lama-kelamaan berkumpul dan menaikkantekanan di lokasi tersebut. Karena besarnya tekananmenyebabkan gelembung atau blister. Hal ini tidak terjadi pada suhu yang tidak terlalu tinggi dan padadaerah yang dekat dengan permukaan.
Hydrogen attack mengakibatkan logam menjadi rapuh akibat penetrasi hidrogen ke kedalaman logam. Peristiwa perapuhan ini biasa disebut dengan “Hydrogen Embrittlement”. Logam juga bisa retak oleh invasi hidrogen.

Belum diketahui bagaimana hidrogen bisa merusak logam secara kimiawi ataupun secara elektrokimia, tetapi efek pengrusakannya terhadap logam sebagai bahan konstruksi sudah jelas. Boleh jadi hidrogen hanya mendifusio secara fisika saja ke dalam logam akibat kecilnya ukuran atom hidrogen.


Read More ->>

Senin, 30 Desember 2013

Kecepatan Potong Pada Pembubutan

Yang dimaksud dengan kecepatan potong (CS) adalah kemampuan alat potong menyayat bahan dengan aman menghasilkan tatal dalam satuan panjang /waktu (m/menit atau feet/menit).
Karena nilai kecepatan potong untuk setiap jenis bahan sudah ditetapkan secara baku (Tabel 2), maka komponen yang bisa diatur dalam proses penyayatan adalah putaran mesin/benda kerja. Dengan demikian rumus untuk menghitung putaran menjadi:
D  =  diameter pisau/benda kerja (m)
n  =  kecepatan putaran pisau/benda kerja (rpm) 

Karena satuan Cs dalam meter/menit sedangkan satuan diameter pisau/benda kerja dalam millimeter, maka rumus menjadi :

 Untuk selengkapnya silahkan diunduh disini
Read More ->>

Sabtu, 21 Desember 2013

CARA PENGOPERASIAN MESIN BUBUT

A.    Cara menghidupkan dan Mematikan Mesin Bubut
Cara menghidupkan mesin bubut yaitu menekan tuas on/ off pada mesin bubut sehingga spindle dapat berputar. Ada beberapa yang di perhatikan dalam menghidupkan mesin bubut diantaranya, emergency harus di setel keluar dan tutup spindle harus di tutup. Jika hal tersebut tidak dilakukan maka mesin (spindel) tidak akan hidup.

B.    Cara mengoperasikan dan Mengendalikan Putaran Spindle
Cara mengoperasikan dan mengendalikan putaran spindle adalah mengatur tuas pengatur kecepatan spindle sesuai dengan plat tabel yang sudah ada pada mesin bubut.

C.    Cara Mengoperasikan Supor atau Eretan
Cara mengoperasikan eretan yaitu dengan memutar eretan kekanan ataupun kekiri, sesuai dengan pemakanan yang ingin dilakukan.

D.    Cara Mengoperasikan Mesin Bubut
  1. Siapkan peralatan dan perlegkapan yang akan digunakan
  2. Cek kondisi / kesiapan mesin
  3.  Masukkan sumber utama arus
  4.  Atur putaran spindel yang akan digunakan sesuaikan dengan material yang digunakan (ditentukan melalui perhitungan atau tabel  cutting speed)
  5. Pasang senter putar pada kepala lepas
  6. Pasang pahat dengan ujung sayat setinggi ujung senter
  7. Pasang / cekam benda kerja
  8. Dekatkan pahat pada ujung benda kerja yang akan disayat
  9. Hidupkan mesin dengan tombol / saklar  pengendali dan Lakukan penyayatan

Read More ->>

Jumat, 20 Desember 2013

Aksesori dan Perlengkapan Mesin Bubut

Setelah mengenal chuck rahang tiga dan chuck rahang empat, sekarang akan kita lanjutkan mengenal beragam perlengkapan atau aksesoris mesin bubut yang lainnya. Tanpa berlama-lama,inilah alat-alat bantu yang sering dipakai pada pengoperasian mesin bubut.

Senter Putar dan Senter Mati

Digunakan untuk membantu menyangga ujung sebuah benda kerja yang berbentuk shaft atau as atau poros. Dengan tujuan agar ketika dibubut,benda tersebut tidak goyang,bengkok,bergetar atau pun lepas. Tentunya sebelumnya ujung dari as tersebut diberi lubang untuk tempat senter.

Senter Pipa
Digunakan dengan maksud yang sama dengan penggunaan senter putar namun senter pipa dikhususkan untuk pipa atau as yang memiliki lubang yang tidak bisa disokong dengan senter putar biasa.

Catok bor (Drill Chuck)
Kalu yang ini pasti semua sudah pada tahu. Ya,ini adalah pencekam mata bor dan yang di gambar di bawah adalah yang kapasitasnya bisa mencekam dai diameter 1,5-13mm. Biasanya ada juga yang 1-10mm dan yang bisa mencekam dai diameter 3-16mm.
Di bagian tutorial yang lain sudah kita bahas tentang cara mengebor di mesin bubut,jadi disini tidak akan kita bahas lagi.

Collet Chuck
Chuck model ini digunakan untuk mencekam mata bor dalam suatu diameter tertentu saja. Dia hanya punya setelan mengendur dan mengencangkan untuk satu ukuran tertentu saja. Karena itu,proses pergantian benda yang memiliki ukuran sama di catok imi menjadi lebih cepat. Biasanya dalam satu set terdiri dari beberapa collet seperti gambar berikut.

 

Adaptor Atau Sarung

Tangkai senter,mata bor dan tangkai chuck bor memiliki beberapa tingkat ukuran. Agar kita bisa menggunakan semuanya di kepala lepas mesin bubut kita, maka kita perlu menggunakan adaptor. Misalnya,jika kita hendak memasang mata bor 32mm langsung di kepala lepas mesin bubut kecil tidak akan muat,maka kita perlu sarung pengurang diameternya seperti gambar berikut. Begitupun sebaliknya,jika kekecilan maka kita pakai sarung penambah.



Penyagga Tetap (Steady Rest)
Digunakan untuk membantu memegang benda yang panjang yang akan mendapat pengerjaan dibagian ujungnya. Dipasang pada bed mesin dengan dikunci mur baut. Bagian yang memegang benda kerja dibuat dengan bronze atau kuningan sehimgga tidak banyak merusak benda kerja. Namun begitu harus teatap dilumasi selama pemakaian/


Penyangga Berjalan (Follow Rest)
Digunakan untuk membantu memegang benda kerja dengan diameter relatif kecil dan relatif panjang. Dipasang pada eretan melintang/cross slide sehingga ikut bergerak sepanjang bed mesin. Sama halnya dengan penyangga tetap,ini pun harus dilumasi selama pemakaian.
Read More ->>

Bagian-bagian Mesin Bubut



Setelah sebelumnya posting tentang pengertian mesin bubut dan macam-macam jenis mesin bubut maka kurang lengkap sekiranya tidak membahas bagian-bagian mesin bubut sendiri,,, jadi pada kesempatan kali ini kita bahas tentang bagian-bagian mesin bubut...
Oke simak ya..
Pada mesin bubut ada beberapa bagian dan fungsinya yang harus diketahui yaitu:
  1. Tuas pengatur kecepatan transportir dan sumbu pembawa fungsinya untuk mengatur kecepatan putaran transportir dan sumbu pembawa.
  2. Pelat tabel fungsinnya sebagai pedoman untuk mengatur tuas kecepatan trasportir dan kecepatan putaran pada mesin bubut.
  3. Tuas pengubah pembalik transportir dan sumbu pembawa fungsinya untuk mengatur arah putaran poros mesin bubut.
  4. Kepala tetap didalam kepala tetap terdapat roda gigi atau transmisi untuk mengatur kecepatan pada mesin bubut serta beberapa tuas yang diperlukan.
  5. Tuas pengatur kecepatan sumbu utama fungsinya untuk mengatur kecepatan putaran sumbu utama pada mesin bubut.
  6. Sumbu utama fungsinya sebagai kedudukan CHUCK (PENJEPIT)
  7. Bad mesin pada mesin terdapat eretan serta kepala lepas dan lainnya.
  8. Eretan fungsinya untuk kedudukan dan pembawa pahat pada mesin bubut.
  9. Penjepit pahat fungsinya untuk kedudukan atau tempat penjepit pahat.
  10. Eretan atas fungsinya penggeser pahat bubut dan membuat bidang tirus.
  11. Keran pendingin fungsinya tempat menyalurkan coolant
  12. Kepala lepas fungsinya sebagai kedudukan chuck bor serta untuk pendukung ketika pembubutan di antara 2 senter.
  13. Pengikat kepala lepas fungsinya untuk mengunci agar kedudukan kepala lepas tidak bergeser.
  14. Tuas eretan bawah fungsinya untuk menggeser eretan kesamping\memanjang.
  15. Eretan tuas,eretan tengah fungsinya menggeser eretan tengah secara melintang atau maju dan mundur.
  16. Tuas eretan atas fungsinya menggeser posisi pahat menyamping atau kesamping.
  17. Tombol ON/OFF fungsinya untuk menghidup dan mematikan mesin.
  18. Pedal rem fungsinya untuk menghentikan putaran pada mesin bubut dgn cepat
  19. Tuas penghubung otomatis fungsinya untuk mengaktifkan pergeseran eretan secara otomatis.
Read More ->>

Senin, 16 Desember 2013

MESIN BUBUT DAN MACAM-MACAM MESIN BUBUT


Mesin Bubut (Turning Machine)
Proses bubut merupakan proses pengerjaan material dimana benda kerja dan alat pahat bergerak mendatar (searah meja/bed mesin), melintang atau membentuk sudut secara perlahan dan teratur baik secara otomatis atau pun manual. Pada proses pembubutan berlangsung, benda kerja berputar dan pahat disentuhkan pada benda kerja sehingga terjadi penyayatan. Penyayatan dapat dilakukan kearah kiri atau kanan,sehingga menghasilkan benda kerja yang berbentuk silinder. Jika penyayatan dilakukan melintang maka akan menghasilkan bentuk alur, pemotongan atau permukaan yang disebut facing (membubut muka).

Selain dapat dilakukan kearah samping dan kearah melintang, penyayatan dapat juga diarahkan miring dengan cara memutarkan eretan atas sehingga menghasilkan benda kerja yang berbentuk konis/tirus. Penyayatan yang beralur dengan kecepatan dan putaran tertentu dapat menghasilkan alur yang teratur seperti membubut ulir. Penyayatan dapat dilakukan dari luar maupun dari dalam. Penyayatan yang dilakukan dari luar disebut membubut luar(outside turning), sedangkan penyayatan yang dilakukan dibagian dalam atau pada lubang disebut membubut dalam(inside turning). Bubut dalam berupa rongga, ulir dalam, lubang tembus, atau lubang tidak tembus.

Gerakan utama mesin bubut:
  • Gerkan berputar benda kerja (putaran utama), disebut cutting motion
  • Gerakan pahat menyayat benda kerja disebut feed motion
  • Gerakan pahat maju sesuai dengan kedalaman pemakanan disebut adjusting motion

Jenis-Jenis Mesin Bubut
Ditinjau dari  daya penggerak dan ukurannya, mesin bubut dikelompokkan sebagai berikut.
  1. Mesin Bubut Ringan
Mesin bubut ringan adalah mesin bubut dengan daya dan ukuran serta bobot yang ringan. Mesin ini biasanya diletakkan diatas meja atau bangku, sehingga disebut mesin bubut lantai.
 


  1. Mesin Bubut Sedang
Mesin bubut sedang adalah mesin bubut yang mempunyai daya dan kapasitas serta ukuran sedang. Mesin ini digunakan untuk memperbaiki peralatan-peralatan teknik yang mempunyai ukuran yang sedang. Mesin bubut sedang terdiri atas mesin bubut Bantu dan mesin bubut lantai. Pada mesin bubut sedang dimungkinkan untuk membubut produk yang mempunyai benda kerja dengan bentuk yang lebih bervariasi.

  1. Mesin Bubut Standar
Konstruksi mesin bubut standar mempunyai ukuran lebih besar dan peralatan yang lebih lengkap. Mesin ini digunakan untuk membuat produk atau memperbaiki peralatan-peralatan teknik dengan tingkat kekasaran yang standar. Ditinjau dari transmisi dan daya penggerak sumbu utamanya, terdiri atas
a.       Mesin Bubut Standar dengan Transmisi Roda Sabuk
Mesin bubut yang hubungan antara putaran dari motor penggerak ke sumbu utamanya menggunakan sabuk (belt).


b.      Mesin Bubut Standar dengan Transmisi Roda Rantai
Mesin bubut standar yang hubungan puatran motor penggerak ke poros utamanya menggunakan transmisi rantai dan roda rantai.

c.       Mesin Bubut Standar dengan Transmisi Roda Gigi
Mesin bubut standar yang hubungan putaran dari motor penggerak kesumbu utamanya diatur dengan roda gigi yang terpasang pada roda gigi transmisi.


  1. Mesin Bubut Khusus
Mesin bubut khusus adalah mesin bubut yang digunakan untuk membuat atau memperbaiki alat-alat teknik yang tidak dapat dikerjakan pada mesin bubut standar. Mesin bubut khusus terdiri atas:
a.       Mesin Bubut Beralas Panjang
Mesin bubut beralas panjang biasa digunakan untuk mengerjakan poros-poros atau benda kerja yang berukuran panjang. Misalnya: poros-poros kapal laut, poros-poros untuk peralatan alat-alat pada pekerjaan tambang, dan semacamnya.



b.      Mesin Bubut Carrousel
Mesin bubut carrousel adalah mesin bubut yang sumbu utamanya vertikal dan cekam berbentuk meja putar. Benda kerja diletakkan diatas meja putar dan pahat dapat digerakan ke arah vertikal maupun kearah melintang. Mesin bubut carrousel dgunakan untuk membubut benda-benda kerja yang mempunyai diameter besar dengan ukuran antara 1 m sampai dengan 2 m.


Sedangkan untuk mesin bubut carrousel yang berukuran kecil dpat membubut benda kerja yang mempunyai ukuran antara 300 mm sampai dengan 400mm. Mesin bubut carrousel mempunyai keungulan dibandingkan dengan mesin bubut horizontal biasa. Beberapa kelebihan mesin bubut carrousel dibandingkan degan mesin bubut horizontal biasa, antara lain:
Ø  Mesin bubut carrousel tidak memerlukan tempat yang luas dibandingkan dengan mesin bubut biasa karena arahnya vertical (keatas).
Ø  Mesin bubut carrousel dapat menahan beban lebih besar.
Ø  Pengencangan pada mesin bubut carrousel jauh lebih ringan dibandingkan dengan mesin bubut horizontal. Hal ini dikarenakan benda kerja ditempatkan diatas meja putar.
Ø  Benda kerja pada mesin bubut carrousel dilayani dengan menggunakan cran. Benda-benda kerja yang dapat dikerjakan pada mesin carrousel antara lain: rumah-rumah blower, rumah turbin dan semacamnya.

a).  Mesin Bubut Revolver
Mesin bubut revolver disebut juga mesin bubut turret. Pada mesin bubut revolver terdapat pemegang pahat yang banyak, dengan kedudukan dan macam pahat yang berbeda dan dapat diatur sesuai dengan kebutuhan.

b). Mesin Poros Engkol
Mesin bubut poros engkol adalah mesin bubut yang digunakan untuk memperbaiki atau membuat benda kerja yang eksentrik, misalnya: poros eksentrik atau poros engkol.


c). Mesin Bubut Copy
Mesin bubut copy adalah mesin bubut yang membentuk benda kerja dengan menggunakan contoh (maket). Pengoperasiannya dilakukan dengan cara mengcopy dari maket yang telah dibuat sebelumnya.

Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.