Selasa, 01 April 2014



JENIS-JENIS KOROSI
Korosi (Kennet dan Chamberlain, 1991) adalah penurunan mutu logam akibat reaksi elektro kimia dengan lingkungannya. Korosi atau pengkaratan merupakan fenomena kimia pada bahan – bahan logam yang pada dasarnya merupakan reaksi logam menjadi ion pada permukaan logam yang kontak langsung dengan lingkungan berair dan oksigen. Contoh yang paling umum, yaitu kerusakan logam besi dengan terbentuknya karat oksida. Dengan demikian, korosi menimbulkan banyak kerugian.
Korosi logam melibatkan proses anodik, yaitu oksidasi logam menjadi ion dengan melepaskan elektron ke dalam (permukaan) logam dan proses katodik yang mengkonsumsi electron tersebut dengan laju yang sama : proses katodik biasanya merupakan reduksi ion hidrogen atau oksigen dari lingkungan sekitarnya.
Korosi merupakan proses atau reaksi elektrokimia yang bersifat alamiah dan berlangsung dengan sendirinya, oleh karena itu korosi tidak dapat dicegah atau dihentikan sama sekali. Korosi hanya bisa dikendalikan atau diperlambat lajunya sehingga memperlambat proses perusakannya. Dilihat dari aspek elektrokimia, korosi merupakan proses terjadinya transfer elektron dari logam ke lingkungannya. Logam berlaku sebagai sel yang memberikan elektron (anoda) dan lingkungannya sebagai penerima elektron (katoda). Reaksi yang terjadi pada logam yang mengalami korosi adalah reaksi oksidasi, dimana atom-atom logam larut kelingkungannya menjadi ion-ion dengan melepaskan elektron pada logam tersebut. Sedangkan dari katoda terjadi reaksi, dimana ion-ion dari lingkungan mendekati logam dan menangkap elektronelektron yang tertinggal pada logam.
Faktor yang mempengaruhi korosi :
-  Jenis dan konsentrasi elektrolit
-  Adanya oksigen terlarut pada elektrolit
-  Temperatur tinggi
-  Kecepatan gerakan elektrolit
-  Jenis logam/paduan
-  Adanya galvanic cell
-  Adanya tegangan (tarik)

JENIS – JENIS KOROSI
1.    Korosi Intergranular
Korosi intergranular adalah bentuk korosi yang terjadi pada paduan logam akibat terjadinya reaksi antar unsur logam tersebut di batas butirnya. Seperti yang terjadi pada baja tahan karat austenitik apabila diberi perlakuan panas. Pada temperatur 425 – 815 oC karbida krom (Cr23C6) akan mengendap di batas butir. Dengan kandungan krom dibawah 10 %, didaerah pengendapan tersebut akan mengalami korosi dan menurunkan kekuatan baja tahan karat tersebut. Korosi intergranular terjadi pada daerah tertentu dengan penyebab grain boundary. Hal ini disebabkan oleh adanya kekosongan unsur/elemen pada kristal ataupun impurities dari proses casting. Korosi ini terjadi pada casting and welding.

Adapun cara pencegahan adalah sebagai berikut :
-    Casting
Pada proses ini harus dilakukan dengan jalan mengecor logam dengan step yang benar, komposisi yang benar dan pendinginan yang benar sesuai dengan karakteristik masing – masing logam dan kegunaannya
-    Welding
Pemilihan elektrode yang benar, prosedur pengelasan yang benar, pendinginan yang benar

Pencegahan Korosi Intergranular
Casting, pada proses ini harus dilakukan dengan jalan mengecor logam dengan step yang benar, komposisi yang benar dan pendinginan yang benar sesuai dengan karakteristik masing – masing logam dan kegunaannya Welding, pemilihan elektrode yang benar, prosedur pengelasan yang benar, pendinginan yang benar

2.    Korosi Erosi
Korosi erosi adalah korosi yang terjadi pada permukaan logam yang disebabkan aliran fluida yang sangat cepat sehingga merusak permukaan logam dan lapisan film pelindung. Korosi erosi juga dapat terjadi karena efek-efek mekanik yang terjadi pada permukaan logam, misalnya : pengausan, abrasi dan gesekan. Logam yang mengalami korosi erosi akan menimbulkan bagian-bagian yang kasar dan tajam. Akibat gesekan antara fluida dengan logam sehingga logam tergerus dengan percepatan atau penambahan keburukan sifat material karena gerakan relatif antara fluida korosif dan permukaan metal. Korosi erosi dibagi menjadi 2 tipe yaitu ;
-    Korosi Kavitasi: Akibat adanya benturan gelembung fluida dengan permukaan logam sehingga berakibat luka terhadap permukaan logam tersebut
-    Fretting Corrosion: Akibat gesekan antara logam dengan logam dan berakibat suhu logam naik dan tergerus sesama logam.
Tipe Media Korosif antara lain gas, larutan encer, sistem organik, metal cair dan semua tipe peralatan yang diekspos fluida (piping system, katup, pompa dan propeller). Dan cara pencegahannya secara global antara lain menggunakan material dengan ketahanan korosi yang baik, perancangan (design) yang baik, coating dan cathodic protection.


Mekanisme Pembentukan Korosi Erosi
Proses terjadinya korosi secara umum adalh melalui beberapa tahap berikut :
a.    Pada tahap pertama terjadi serangan oleh gelembung udara yang menempel di permukaan lapisan pelindung logam, karena adanya aliran turbulen yang melintas di atas permukaan logam tersebut.
b.    Pada tahap kedua gelembung udara tersebut mengikis dan merusak lapisan peindung.
c.    Pada tahap ketiga, laju korosi semakin meningkat, karena lapisan pelindung telah hilang. Logam yang berada di bawah lapisan pelindung mulai terkorosi, sehingga membentuk cekungan, kemudian terjadi pembentukan kembali lapisan pelindung dan logam, menjadi tidak rata. Bila aliran terus mengalir, maka akan terjadi serangan kembali oleh gelembung udara yang terbawa aliran. Serangan ini akan mengikis dan merusak lapisan pelindung yang baru saja terbentuk, rusaknya lapisan pelindung tersebut akan mengakibatkan serangan lebih lanjut pada logam yang lebih dalam sampai membentuk cekungan.
Contoh Korosi Erosi
1)    Korosi Erosi pada sambungan pipa
2)    Korosi Erosi pada washing machine

Pengendalian Korosi Erosi
Pengendalian korosi erosi dapat dilakukan dengan cara :
a.    Mengurangi kecepatan aliran fluida untuk mengurangi turbulensi dan tumbukan yang berlebihan.
b.    Menggunakan kompenen yang halus dan rapi pengerjaannya, sehingga tempat pembentukan gelembung menjadi sesedikit mungkin
c.    Penambahan inhibitor atau passivator
d.    Menggunakan paduan logam yang lebih tahan korosi dan tahan erosi
e.    Proteksi katodik

3.    Serangan Selektif
Selective leaching adalah korosi yang terjadi pada paduan logam karena pelarutan salah satu unsur paduan yang lebih aktif, seperti yang biasa terjadi pada paduan tembaga-seng. Mekanisme terjadinya korosi selective leaching diawali dengan terjadi pelarutan total terhadap semua unsur. Salah satu unsur pemadu yang potensialnya lebih tinggi akan terdeposisi, sedangkan unsur yang potensialnya lebih rendah akan larut ke elektrolit. Akibatnya terjadi keropos pada logam paduan tersebut. Contoh lain selective leaching terjadi pada besi tuang kelabu yang digunakan sebagai pipa pembakaran. Berkurangnya besi dalam paduan besi tuang akan menyebabkan paduan tersebut menjadi porous dan lemah, sehingga dapat menyebabkan terjadinya pecah pada pipa.

Cara pencegahan
Proses dezincification dapat dikurangi dengan meminimalkan keganasan lingkungan atau dengan katodic protection. Penambahan 1% tin pada 70 – 30 brass, atau dengan penambahan arsenic, antimony, atau phosporus sebagai inhibitor Graphitization, dapat terjadi karena terdapat perbedaan graphit dan besi pada struktur logam. Dengan demikian sebagian Fe meninggalkan vacant pada struktur graphit logam.

4.    Korosi Retak Tegang (stress corrosion cracking)
Korosi retak tegang (stress corrosion cracking), korosi retak fatik (corrosion fatique cracking) dan korosi akibat pengaruh hidogen (corrosion induced hydrogen) adalah bentuk korosi dimana material mengalami keretakan akibat pengaruh lingkungannya. Korosi retak tegang terjadi pada paduan logam yang mengalami tegangan tarik statis dilingkungan tertentu, seperti : baja tahan karat sangat rentan terhadap lingkungan klorida panas, tembaga rentan dilarutan ammonia dan baja karbon rentan terhadap nitrat. Korosi retak fatk terjadi akibat tegangan berulang dilingkungan korosif. Sedangkan korosi akibat pengaruh hidogen terjadi karena berlangsungnya difusi hidrogen kedalam kisi paduan.
Stress corrosion cracking tidak akan ada kalau hanya ada stress atau hanya ada lingkungan korosif saja. Tipe korosi model SCC ini biasanya terjadi pada stainless steel. Hal ini disebabkan karena ketika terjadi korosi, pada permukaan logam terbentuk lapisan   corrosion product berupa Cr2O3 yang merupakan bahan keramik. Ketika ada stress,  maka lapis keramik tersebut tidak tahan sehingga pecah. Akibatnya,  permukaan logam tidak lagi terlapisi oleh keramik dan  terekspos kembali pada lingkungan yang korosif, sehingga kembali terkorosi dan membentuk lapisan oksida baru, yang selanjutnya pecah lagi oleh stress. Demikian seterusnya, sehingga terjadilah crack atau SCC yang dapat mengakibatkan pecahnya peralatan. Kegagalan peralatan begitu cepat dari sejak proses awal terjadinya SCC. Kecepatan perengkahan atau crack bisa mencapai kecepatan suara.

5.    Korosi Perapuhan Hidrogen (Hydrogen attack)
Kerusakan hidrogen di dalam material baja terjadiakibat atom-atom hidrogen ini bergabung menjadimolekul (H2) dan menyebabkan terjadinya regangan lokal. Jika kemudian gas H2 terperangkap di dalamcacat material seperti inklusi dan laminasi, maka gashidrogen lama-kelamaan berkumpul dan menaikkantekanan di lokasi tersebut. Karena besarnya tekananmenyebabkan gelembung atau blister. Hal ini tidak terjadi pada suhu yang tidak terlalu tinggi dan padadaerah yang dekat dengan permukaan.
Hydrogen attack mengakibatkan logam menjadi rapuh akibat penetrasi hidrogen ke kedalaman logam. Peristiwa perapuhan ini biasa disebut dengan “Hydrogen Embrittlement”. Logam juga bisa retak oleh invasi hidrogen.

Belum diketahui bagaimana hidrogen bisa merusak logam secara kimiawi ataupun secara elektrokimia, tetapi efek pengrusakannya terhadap logam sebagai bahan konstruksi sudah jelas. Boleh jadi hidrogen hanya mendifusio secara fisika saja ke dalam logam akibat kecilnya ukuran atom hidrogen.



SUMBER:
a.    http://pandapoo-panda.blogspot.ca/2012/04/jenis-jenis-korosi-dan-cara.html diakses pada 23-12-2013
b.    http://navale-engineering.blogspot.ca/2012/04/korosi-sebab-sebab-korosi-macam-macam.html diakses pada 23-12-2013
c.    http://mechanicalengboy.wordpress.com/2012/12/23/jenis-jenis-korosi-part-2/ diakses pada 23-12-2013
Read More ->>

Cerita Sahabat Nabi Perjuangan Rabi’ bin Khutsaim bin ‘Aidz


Engkau telah menggapai kemuliaan dunia yang hakiki. Tak ada orang lain. Tak ada orang yang dapat mencapai derajat tertinggi itu. Engkau telah mencapai derajat yang paling puncak yang tidak dapat didaki, kecuali hanya oleh orang-orang yang ikhlas. Orang-orang banyak beribadah, bercita-cita luhur, dan meninggalkan dunia beserta kesenangannya.

Ia adalah orang yang paling dekat dengan sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu. Ia adalah orang yang paling wara’. Ia adalah seorang pria yang hatinya sangat lembut.Suka menumpahkan air mata. Apabila shalat ia lupa akan segala hal. Tak ingat lagi kehidupan dunia. Ia sangat mencintai Rabbnya. Ibadahnya tak pernah henti. Ada seorang pria ‘Aslam, yang memberikan kesaksian, ketika melihat orang itu sedang shalat, yang ia tak pernah melihat dilakukan oleh orang lain. “Apabila ia sujud, ia laksana kain yang dilempar dan dihinggapi oleh burung-burung”, ujar ‘Aslam.

Saat menjelang malam Ia jarang tidur. Ia tak memejamkan matanya. Saat orang lain sedang asyik dibuai mimpi-mimpi. Keluarganya pun kasihan kepadanya.Sampai seorang putrinya menegurnya. “Wahai ayah!. Mengapa selalu terjaga? Padahal orang-orang sedang asyik tidur?”. Orang itu menjawab pertanyaan putrinya. “Sesungguhnya neraka janaham terbayang di mataku!, ucap ayahnya. Suatu ketika. Orang itu berkata kepada putrinya yan ia cintai itu, dan berkata : “Aku sangat takut. Takut aku tergelincir ke dalam neraka”, kata ayahnya.

Para sahabat lainnya, ingin mengetahui, bagaimana lamanya shalat tahajud di malam hari. Salah seorang sahabat, lalu menuturkan : “Mereka menaruh tanda di rambutnya, karena rambut orang itu tebal, untuk mengetahui orang itu tidak atau tidak? Ternyata tanda yang mereka taruh itu tidak berubah. Dari peristiwa itu, diketahui ia tidak membaringkan tubuhnya di malam hari”.

Bila pagi tiba. Ia berkata :”Selamat datang, wahai para malaikat Allah. Tulislah, ‘Bismillaahir-Rahmanaanir-Rahim, subhanallah, wal-hamdulillah, laa Ilahaa illallaah wallaahu Akbar!”. Ia sangat meresapi makna all-Qur’an, bila membacanya. Mengetahui apa yang diperintah dan larangannya. Mengenal betul janji dan ancamanNya. Suatu kali, ia melakukan shalat tahajud, dan membaca ayat : “Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, yaiu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu”. (al-Qur’an : 45:21) Ayat itu merasuk ke dalam pikirannya. Sampai tidak dapat melanjutkannya. Ayat itu diulang-ulang sampai pagi hari. Ia merasakan lezatnya, ketika membaca al-Qur’anul Karim.

Siapa orang itu? Ia tak lain adalah Rabi’ bin Khutsaim bin ‘Aidz rahimahullah. Ia adalah murid Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, yang menjadi pewaris ilmunya, peneladan akhlaknya, imam dalam ibadah, zuhud, dan wara’.

Rabi’ tak suka memperlihatkan amal ibadahnya. Ia bahkan berupaya menyembunyikan ibadahnya. Ketika ada orang menemuinya sedang ia sedang memegang mush’af al-Qur’an, ia menutupinya dengan kain agar tak terlihat. Rabi’ tidak melakukan shalat sunnah di masjid jami’. Ia hanya satu kali orang-orang melihatnya mengerjakan shalat sunnah. Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah telah mencapai tingakt rasa takut kepada Allah Azza Wa Jalla yang sangat tinggi. Hatinya selalu dipenuhi oleh khasyatillah (takut kepada Allah). Orang yang keadaan seperti itu, pasti akan ringan bagi dari segala musibah dan ujian dunia.

Suatu kali. Rabi’ pergi bersama dengan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Mereka berdua melihat tukang besi. Mereka berdua melihat besi yang sedang menyala dan ditempa. Lalu, Ibnu Mas’ud melanjutkan ke tempat lain. Sampai ditepian sungai Eufrat. Ditepian sungai yang membelah kota Bagdad itu, mereka bertemu dengan seorang pandai besi yang mengerjakan pembuatan perkakas. Saat melihat api yang menyala-nyala itu, Abdullah bin Mas’ud membacakan ayat al-Qur’an : “Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan, apabila mereka dilemparkan ketempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan”. (al-Furqan :25:12-13). Saat itu, tiba-tiba Rabi’ pingsan, dan digotong ke rumahnya. Abdullah bin Mas’ud menunggui sampai dhuhur. Belum juga siuman. Sampai ashar belum juga siuman. Dilanjutkan sampai magrib. Belum juga siuman. Baru sesudah itu, Rabi’ siuman, kemudian Abdullah bin Mas’ud meninggalkannya. Itulah kondisi orang-orang yang bertaqwa.

Seorang dari Bani Taymillah bercerita, dan pernah mendampingi Rabi’ selama dua tahun. Selama dua tahun itu, orang menceritakan, bahwa Rabi’, hanya berbicara satu kali, yang berkaitan dengan dunia, dan dalam bentuk pertanyaan. “Apakah ibumu masih hidup? Berapa masjid dilingkunganmu?”. Orang yang hatinya sibuk dengan zikrullah, tak memiliki kesempatan menyebut-nyebut dunia.

Pernah Rabi’ terkena penyakit lumpuh dalam waktu yang lama. Suatu ketika ia ingin makan daging ayam. Namun, ia menahan keinginannya itu selama empat puluh hari. Baru, ia berkata kepada istrinya : “Aku ingin makan daging ayam sejak empat puluh hari yang lalu, agar keinginanku dapat diredam”, ucapnya. “Subhanllah.Mengapa itu tidak engkau lakukan?”, sahut istrinya. Maka, istrinya menyuruh seseorang pergi ke pasar membeli ayam. Lalu, disembelihnya ayam itu. Usai menyembelih ayamnya, lalu memasak ayam itu, dan dicampur dengan roti, kemudian istrinya menghidangkan masakan itu kepada suaminya.

Betapa. Saat Rabi’ akan makan hidangan ayam beserta roti, di depan pintu datanglah seorang pengemis dan meminta- “Berikanlah ini kepadanya. Semoga Allah Azza Wa Jalla memberkahi”, kata Rabi’ kepada istrinya. “Subhanallah”, sahut istrinya. “Sudahlah. Berikan kepada dia”, kata Rabi’. Isterinya lalu berkata : “Kalau begitu aku akan melakukan hal-hal yang lebih baik”, tukas istrinya. “Apa?”, tanya Rabi’ kepada istrinya. “Aku akan memberikan uang seharga makanan ini”, jawab isterinya. Setelah isterinya menyerahkan uang itu kepada pengemis itu, lalu Rabi’ berkata :”Berikanlah uang berikut makanan itu seluruhnya”.

Suatu hari datang seoran laki-laki ke rumahnya meminta nasehat. Rabi’ rahimahullah mengambil kertas lalu menulsikan kata-kata : “Katakanlah, marilah kebucakan apa yang diharamkan Tuhanmu,yaitu : Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu (ibu-bapak), dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin. Kami akan memberi rezeki kepada kamu dan mereka,dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan keji, janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah, melainkan dengan sebab yang benar”.

Rabi’ bin Khutsaim telah memberikan teladan. Memberikan pelajaran. Memberikan arahan. Semua menjadi jalan menuju kehidupan yang diridhai Allah Azza Wa Jalla. Tak ingin mendapatkan murkaNya, kelak di akherat nanti. Wallahu ‘alam.

Read More ->>

Minggu, 30 Maret 2014

Kisah Sahabat Nabi "Utsman bin Mazh’un"



Ia termasuk sahabat Rasulullah yang hijrah ke Abessinia. Ia rela menerima siksaan kaum Quraisy demi membela agama Allah
Ketegaran Utsman bin Mazh’un tercatat dalam perjalanan sejarah perkembangan Islam. Ia tercatat sebagai orang yang berani melawan penderitaan dengan tetap mempertahankan imannya.
Ustman bin Mazh’un adalah seorang sahabat Rasulullah yang hijrah ke Abessinia atau Habasyah yang kini dikenal dengan sebutan Ethiopia. Ia bersama 80 sahabat Rasulullah hijrah ke negara yang memeluk agama Kristen ini atas perintah Rasulullah. “Tempat itu diperintah oleh seorang raja dan tak ada orang yang dianiaya di situ. Itu bumi jujur sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua, “sabda Rasulullah. Raja Negus, penguasa Abessinia kala itu, menerima dengan baik kedatangan kaum muslimin. Bahkan dua utusan kaum Quraisy yang datang membujuk Raja Negus, Amr ibnul ‘Ash dan Abdullah ibnu Abdi Rabi’ah, gagal total meminta mereka kembali ke Mekah. Ja’far bin Abi Thalib berhasil menjelaskan dan meyakinkan Raja Negus tentang agama Islam dan sikapnya terhadap penganut Kristen dan Isa Almasih.
Namun, setelah beberapa saat tinggal di Abessinia, mereka lantas mendengar kabar gembira dengan masuknya sebagian pemimpin kaum Quraisy Mekah ke dalam agama Islam.
Kaum muslimin yang telah hijrah pada tahun kelima masa kenabian itu (sekitar tahun 615 Masehi) mulai tertarik untuk kembali ke Mekah. Mereka telah merindukan tanah kelahiran mereka yang telah lama mereka tinggalkan. Setelah mendapat izin Raja Negus mereka kembali ke Mekah melalui lautan.
Tapi belum lagi memasuki kota Mekah, mereka akhirnya tersadar bahwa mereka telah tertipu informasi kaum Quraisy yang menyesatkan. Berita itu sengaja diembuskan kaum Quraisy agar kaum muslimin mau kembali ke Mekah. Mereka takut kedudukan kaum muslimin semakin kuat dengan menjalin hubungan dengan Raja Negus.
Kaum Quraisy menyambut kaum muslimin yang tengah dimabuk rindu ke Tanah Suci Mekah itu bukan dengan sambutan hangat, tapi dengan senjata. Kaum muslimin benar-benar terjebak dan tak bisa berbuat apa-apa, karena posisi mereka yang sangat lemah. Mereka lantas menyerang kaum muslimin yang tak siap itu. Berbagai siksaan lantas diterima kaum muslim.
Tapi, nasib buruk itu ternyata justru tak menimpa Utsman bin Mazh’un. Sebab, pamannya, Walid bin Mughirah, tanpa sepengetahuan Utsman, telah memberikan jaminan keamanan. Karena itu tak satu pun orang Quraisy yang berani mengganggunya, hingga ia masuk kota Mekah. Perlindungan waktu itu merupakan tradisi masyarakat Arab. Siapa pun dan seberapa rendah kelas seseorang, jika masuk dalam perlindungan tokoh waktu itu, mereka akan aman. Tidak boleh mendapat gangguan sekecil apa pun.
Namun, saat itu ia tak bisa menyaksikan penderitaan dan penyiksaan yang diterima saudara-saudara sesama muslim yang berangkat bersamanya ke Abessinia. Melihat kejadian itu hatinya berontak. Ia tidak bisa merasakan ketenangan dengan mendapatkan keistimewaan sendiri. Ia lantas menghadap Walid bin Mughirah.
“Wahai Abu Abdi Syam (sebutan penghormatan bagi Walid bin Mughirah), sejak saat ini aku melepaskan perlindungan yang telah engkau berikan padaku. Karena aku tidak ingin mendapatkan perlindungan selain dari-Nya. Umumkanlah hal ini, seperti waktu engkau umumkan perlindungan atasku sebelumnya,” kata Utsman dengan suara lantang. Walid tak menyangka kemenakannya akan mengatakan itu.
Walid lantas melepas perlindungannya itu dan segera mengumumkan kepada warga Mekah. Kaum Quraisy lantas berdatangan ke arahnya dan mulai menyiksanya. Utsman menerimanya dengan lapang dada. Ia bangga karena ia kini menerima nasib sama dengan saudara-saudara seimannya. Ia nikmati siksaan demi siksaan itu bagaikan belaian.
Siksaan demi siksaan diterimanya persis di depan sang paman. “Ayolah, Utsman, kalau kamu menghendaki keselamatan, masuklah ke dalam perlindunganku kembali.”
Tapi, Utsman menolak tawaran itu. Dengan tenang ia berkata, “Mataku yang sehat ini memerlukan pukulan seperti yang telah dirasakan saudara-saudaraku seiman. Sebenarnya aku berada dalam perlindungan Allah, yang lebih kuat dari perlindungan yang bisa engkau berikan untukku.”
Setelah berbagai siksaan dan pukulan dia terima dengan tabah, ia mengikuti perintah Rasulullah untuk berangkat hijrah ke Medinah, bersama beberapa sahabat lainnya. Ia berangkat mendahului Rasulullah yang berhijrah bersama Abu Bakar.
Bersamaan dengan kemajuan Islam di kota ini, Utsman juga tercatat sebagai sahabat yang cukup menonjol. Ia laksana batu mulia yang tak bernilai harganya. Utsman adalah orang yang ahli ibadah dan seorang zahid, waktunya habis untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sepanjang siang dan malam ia habiskan waktu untuk shalat, membaca Al-Quran, dan puasa.
Pada suatu hari ia masuk ke dalam masjid dengan pakaian yang compang-camping, robek dan penuh dengan tambahan kulit unta. Peristiwa itu terjadi tepat di hadapan Rasulullah. Hati Rasulullah pilu tersayat menyaksikan hal itu.
Rasulullah lantas bersabda kepada para sahabatnya, “Apa pendapat kalian bila memiliki satu pasang pakaian untuk pagi dan sore diganti dengan pasang pakaian lainnya. Kemudian disiapkan di depan kalian seperangkat wadah makanan sebagai ganti perangkat lainnya.”
Maka seorang sahabat menjawabnya dengan senang hati. “Kami ingin hal itu terjadi hingga kita dapat hidup makmur dan bahagia.”
Rasulullah pun kembali bersabda, “Sebenarnyalah itu telah terjadi. Keadaan kalian saat ini, sudah lebih baik dari keadaan kalian sebelumnya.
Sabda Rasul itu juga didengar Utsman, dan semakin membuatnya tekun menjalani hidup bersahaja dan menghindari kesenangan hidup duniawi. Bahkan, ia juga hendak menghindari menggauli istrinya. Tapi, Rasulullah mendengarnya, dan bersabda, “Inna liahlika ‘alayka khaqqan.” (Sesungguhnya keluargamu itu memiliki hak atas dirimu).
Ketika ia hampir menemui ajalnya, kecintaan dan rasa sayang Rasulullah terlihat jelas kepadanya. Rasulullah membungkuk mencium keningnya. Air mata Rasulullah runtuh dan membasahi kedua pipi Utsman. Utsman wafat dengan tenang dan tercatat sebagai orang Muhajirin pertama yang meninggal di Medinah.
Bahkan, saat putri Rasulullah, Ruqayyah, yang juga istri Utsman bin Affan, menjelang wafat, Rasulullah bersabda, “Pergilah, dan susullah pendahulu pilihan kita, Utsman bin Mazh’un.”

Read More ->>

Kamis, 30 Januari 2014

Projek TA CAD 3D

Pada kesempatan ini, ane mau share hasil karya besar ane,,,
Ane katain besar soalnya dari semua yang pernah ane buat, gambar berikut yang memiliki tingkat kesulitan yang kompleks....
dulu sih waktu masih kecil sering banget tuh mainin tamiya, ngak nyamka tugas akhir mata kuliah cad pun gue isi dengan mainan tersebut,,,,
ini nih penampakan hasil gambar ane,,

Bangga juga sih, bisa gambar tamiya...
biarpun masih banyak kekurangan, tapi lega setelah menyelesaikan projek gambar...
untuk mengunduhnya, silahkan di tunggu..
Read More ->>

Selasa, 07 Januari 2014

MAKALAH KASUS RIIL KOROSI ( KOROSI PADA ATAP SENG )

BAB I
PENDAHULUAN

A.    KOROSI
Korosi pada logam telah berabad-abad menimbulkan masalah dan hal ini jelas menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Korosi menyerang hampir semua peralatan yang terbuat dari logam. Mulai dari peralatan dapur, mesin cuci, sampai mesin mobil. Korosi dapat terjadi di rumah, kebun, alat transportasi, industri dan pipa-pipa bawah tanah. Hampir semua sektor industri mempunyai permasalahan dengan korosi. Misalnya sektor industri logam, industri perhubungan, industri pertambangan dan energi, pekerjaan umum, industri pertanian dan lain sebagainya. Permasalahan yang timbul dapat berupa kerusakan, umur pakai barang yang tidak memenuhi harapan sampai pada faktor keamanan yang tidak memadai.
Proses korosi adalah suatu proses alamiah yang berkaitan dengan penurunan mutu logam sebagai akibat dari hasil interaksi logam tersebut dengan lingkungannya. Dengan demikian, proses korosi akan senantiasa terjadi di berbagai bidang dimana terdapat logam sebagai bahan utamanya. Konsekuensi korosi sangat jelas bagi kita, banyak komponen harus diganti, pelanggan menjadi tidak puas dan banyak lagi masalah finansial yang rumit. Oleh karena itu pengembangan sumber daya manusia dan teknologi di dalam negeri, akan sangat membantu masyarakat untuk mendapatkan biaya penanggulangan yang relatif murah, dan mendapatkan alternatif pemecahan yang didasari oleh kemampuan sendiri.

B.    PENGERTIAN KOROSI
Korosi adalah reaksi redoks antara suatu logam dengan berbagai zat di lingkungannya yang menghasilkan senyawa-senyawa yang tak dikehendaki. Dalam bahasa sehari-hari, korosi disebut perkaratan. Contoh korosi yang paling lazim adalah perkaratan besi.Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen (udara) mengalami reduksi. Karat logam umumnya adalah berupa oksida dan karbonat. Rumus kimia karat besi adalah Fe2O3. xH2O, suatu zat padat yang berwarna coklat-merah.
Korosi merupakan proses elektrokimia. Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi itu berlaku sebagai anode, di mana besi mengalami oksidasi.
Fe(s) ↔ Fe2+(aq) + 2e Eº = +0.44 V
Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain besi itu yang bertindak sebagai katode, di mana oksigen tereduksi.
O2(g) + 2H2O(l) + 4e ↔ 4OH-(aq) Eº = +0.40 V
atau
O2(g) + 4H+(aq) + 4e ↔ 2H2O(l) Eº = +1.23 V
Ion besi (II) yang terbentuk pada anode selanjutnya teroksidasi membentuk ion besi (III) yang kemudian membentuk senyawa oksida terhidrasi, Fe2O3. xH2O, yaitu karat besi. Mengenai bagian mana dari besi itu yang bertindak sebagai anode dan bagian mana yang bertindak sebagai katode, bergantung pada berbagai faktor, misalnya zat pengotor, atau perbedaan rapatan logam itu.
Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan yang merusak logam karena logam bereaksi secara kimia atau elektrokimia dengan lingkungan. Ada definisi lain yang mengatakan bahwa korosi adalah kebalikan dari proses ekstraksi logam dari bijih mineralnya. Contohnya, bijih mineral logam besi di alam bebas ada dalam bentuk senyawa besi oksida atau besi sulfida, setelah diekstraksi dan diolah, akan dihasilkan besi yang digunakan untuk pembuatan baja atau baja paduan. Selama pemakaian, baja tersebut akan bereaksi dengan lingkungan yang menyebabkan korosi (kembali menjadi senyawa besi oksida).
 Kecepatan korosi sangat tergantung pada banyak faktor, seperti ada atau tidaknya lapisan oksida, karena lapisan oksida dapat menghalangi beda potensial terhadap elektroda lainnya yang akan sangat berbeda bila masih bersih dari oksida.

C.    JENIS-JENIS KOROSI
1.    Korosi Homogen
Korosi homogen terjadi karena reaksi electro chemical yang secara homogen terjadi karat ke seluruh bagian material yang terbuka (telanjang).
Sifat
-    Merata dan material menipis
-    Kehilangan tonage besar dan kecepatan tinggi
Contoh :
korosi pada badan kapal, pilar – pilar pelabuhan, korosi pada kaki kaki jacket, sebatang besi yang tercelup larutan asam sulfat, atap seng
Pencegahan :
Pemilihan material yang sesuai, coating yang sesuai, penambahan inhibitor dan katodic protection

2.    Galvanic Corrosion
Apabila terjadi kontak atau secara listrik kedua logam yang berbeda potensial tersebut akan menimbulkan aliran elektron/listrik diantar kedua logam. Logam yang mempunyai tahanan korosi rendah ( potensial rendah) akan terkikis dan yang tahanan korosinya lebih tinggi (potensial tinggi) akan mengalami penurunan korosinya. Galvanic corrosion dipengaruhi oleh, lingkungan, jarak, area/luas
Pencegahan :
Memilih logam dengan posisi deret sedekat mungkin, menghilangkan pengaruh rasio luas penampang yang tidak diinginkan, memberikan isolasi diantara dua logam yang berbeda bila memungkinkan, penerapan coating dengan mengutamakan pada logam anode, penambahan inhibitor dengan cermat untuk mengurangi keagresifan logam dalam proses korosi, pencegahan sistem sambungan mur baut dengan bahan berbeda dengan logam induknya.

3.    Crevice Corrosion
Sifat :
-    Tidak tampak dari luar dan sangat merusak konstruksi
-    Sering terjadi pada sambungan kurang kedap
-    Penyebabnya, lubang, gasket, lap joint, kotoran/endapan
Mekanisme
Oksidasi :             M    + 1e
Reduksi :             O2 + 2H20 + 4e  4OH-

Pencegahan :
-    Penggunaan sistem sambungan butt joint dengan pengelasan dibanding dengan sambungan keling untuk peralatan peralatan baru
-    Celah sambungan ditutup dengan pengelasan menerus atau dengan soldering
-    Peralatan – peralatan harus diperiksa dan dibersihkan secara teratur, terutama pada sambungan – sambungan yang rawan
-    Hindari pemakaian packing yang bersifat higroskopis
-    Penggunaan gasket dan absorbent seperti teflon jika memungkinkan
-    Pada desain saluran drainase,hindari adanya lengkungan – lengkungan tajam serta daerah genangan fluida

4.    Filiform Corrosion
Sifat
Serangan dari korosi ini tidak merusak komponen utama metal tetapi hanya mempengaruhi atau merusak penampilan permukaan metal dimana permukaan dan penampilan kaleng makanan atau minuman.
Mekanisme terjadinya
Mekanisme terjadinya korosi ini merupakan kasus khusus untuk jenis korosi celah. Selama pertumbuhannya, pada bagian kepala unsur seperti H2O dan O2 dari udara luar secara osmosis. Kedua unsur ini selanjutnya bereaksi dengan ion Fe konsentrasi tinggi membentuk oksida Fe. H2O dan O2 ini akan berdifusi masuk kebagian kepala dan keluar dari bagian ekor secara terus menerus, korosi tertahan dibagian kepala dimana hidrolisa yang terjadi dibagian kepala menyebabkanlingkungan yang bersifat asam, sehingga korosi ini dapat menyebar secara otomatis
Pencegahan secara global
-    Menyimpan material berlapis metal (email) didalam  kondisi kering
-    Memberikan lapisan brittle film



5.    Intergranular Corrosion
Mekanisme Penyebab
Korosi intergranular terjadi pada daerah tertentu dengan penyebab grain boundary. Hal ini disebabkan oleh adanya kekosongan unsur/elemen pada kristal ataupun impurities dari proses casting. Korosi ini terjadi pada casting and welding
Pencegahan
Casting, pada proses ini harus dilakukan dengan jalan mengecor logam dengan step yang benar, komposisi yang benar dan pendinginan yang benar sesuai dengan karakteristik masing – masing logam dan kegunaannya. Welding, pemilihan elektrode yang benar, prosedur pengelasan yang benar, pendinginan yang benar.

6.    Pitting Corrosion
Adalah bentuk pengkaratan yang terpusat pada satu titik dengan kedalaman tertentu.
Sifat
-    Terpusat pada titik, kecil/dalam, susah dideteksi, lamert/arah gravitasi
Mekanisme
-    Dalam hal ini pH sangat mempengaruhi, pitting corrosion adalah korosi yang secara alami merupakan reaksi auto katalic.
Pitting corrosion perlu diantisipasi adanya perbedaan katodik dengan anodik sehingga dalam membuat suatu konstruksi tidak akan berakibat fatal hanya karena korosi yang tidak tampak dari luar

7.    Selective Leaching
Adalah penghilangan suatu elemen alloy pada melalui proses korosi. Contoh proses penghilangan/pelepasan Zn dari grass alloy. Contoh lain adalah lunturnya salah satu unsur dari kobalt, chrom, alumunium dalam suasana alloy dengan Fe
Mekanisme :
Kuningan mengurai, Ion ZN berada dalam larutan, the cooper plate kembali ke plat
Reaksi
2Zn         + O2                       ZnO
Zn           + 2OH                    Zn(OH)

Cara pencegahan
Proses dezincification dapat dikurangi dengan meminimalkan keganasan lingkungan atau dengan katodic protection.

8.    Korosi Erosi
Korosi erosi adalah percepatan atau penambahan keburukan sifat material karena gerakan relatif antara fluida korosif dan permukaan metal
Faktor yang mempengaruhi
-    Permukaan film
-    Kecepatan, bertambahnya kecepatan secara umum akan mengakibatkan bertambahnya pengikisan terutama jika diselubungi aliran yang berkecepatan kuat.
-    Turbulen, turbulen mengakibatkan gerakan cairan lebih besar pada permukaan logam dibanding laminar dan terjadi persentuhan yang lebih antara logam dengan sekitarnya
-    Efek galvanic dan sifat metal/campuran
Cara mengatasi korosi erosi
-    Material dengan ketahanan korosi yang baik
-    Perancangan, penambahan diameter pipa membantu dari segi mekanika dalam hal pengurangan kecepatan dan membuat agar aliran yang terjadi adalah aliran laminar
-    Perubahan pada lingkungan, deareation dan penambahan inhibitor
-    Coating dan kathodic protection.

D.    PERKEMBANGAN KOROSI
Korosi pada logam menimbulkan kerugian tidak sedikit. Hasil riset yang berlangsung tahun 2002 di Amerika Serikat memperkirakan, kerugian akibat korosi yang menyerang permesinan industri, infrastruktur, sampai perangkat transportasi di negara adidaya itu mencapai 276 miliar dollar AS. Ini berarti 3,1 persen dari Gross Domestic Product (GDP)-nya. sebenarnya, negara-negara di kawasan tropis seperti Indonesia paling banyak menderita kerugian akibat korosi ini. tetapi, tidak ada data yang jelas di negara-negara tersebut tentang jumlah kerugian setiap tahunnya. 
Korosi yang dipengaruhi oleh mikroba merupakan suatu inisiasi atau aktifitas korosi akibat aktifitas mikroba dan proses korosi. Korosi pertama diindentifikasi hampir 100 jenis dan telah dideskripsikan awal tahun 1934. bagaimanapun korosi yang disebabkan aktifitas mikroba tidak dipandang serius saat degradasi pemakaian sistem industri modern hingga pertengahan tahun1970- an. Ketika pengaruh serangan mikroba semakin tinggi, sebagai contoh tangki air stainless steel dinding dalam terjadi serangan korosi lubang yang luas pada permukaan sehingga para industriawan menyadari serangan tersebut. Sehingga saat itu, korosi jenis ini merupakan salah satu faktor pertimbangan pada instalasi pembangkit industri, industri minyak dan gas, proses kimia, transportasi dan industri kertaspulp. Selama tahun 1980 dan berlanjut hingga awal tahun 2000, fenomena tesebut dimasukkan sebagai bahan perhatian dalam biaya operasi dan pemeriksaan sistem industri. Dari fenomena tersebut, banyak institusi mempelajari dan memecahkan masalah ini dengan penelitian-penelitian untuk mengurangi bahaya korosi tersebut. 
Mikroba merupakan suatu mikrooranisme yang hidup di lingkungan secara luas pada habitat-habitatnya dan membentuk koloni yang pemukaanya kaya dengan air, nutrisi dan kondisi fisik yang memungkinkan pertumbuhan mikroba terjadi pada rentang suhu yang panjang biasa ditemukan di sistem air, kandungan nitrogen dan fosfor sedikit, konsentrat serta nutrisi-nutrisi penunjang lainnya. 
Mikroorganisme yang mempengaruhi korosi antara lain bakteri, jamur, alga danprotozoa. Korosi ini bertanggung jawab terhadap degradasi material di lingkungan. Pengaruh inisiasi atau laju korosi di suatu area, mikroorganisme umumnya berhubungan dengan permukaan korosi kemudian menempel pada permukaan logam dalam bentuk lapisan tipis atau biodeposit. Lapisan film tipis atau biofilm. Pembentukan lapisan tipis saat 2 – 4 jam pencelupan sehingga membentuk lapisan ini terlihat hanya bintik-bintik dibandingkan menyeluruh di permukaan.  
Lapisan film berupa biodeposit biasanya membentuk diameter beberapa centimeter di permukaan, namun terekspos sedikit di permukaan sehingga dapat meyebabkan korosi lokal. Organisme di dalam lapisan deposit mempunyai efek besar dalam kimia di lingkungan antara permukaan logam/film atau logam/deposit tanpa melihat efek dari sifat bulk electrolyte. 
Mikroorganisme dikatagorikan berdasarkan kadar oksigen yaitu : 1. Jenis anaerob, berkembang biak pada kondisi tidak adanya oksigen. 2. Jenis Aerob, berkembang biak pada kondisi kaya oksigen. 3. Jenis anaerob fakultatif, berkembang biak pada dua kondisi. 4. Mikroaerofil, berkembang biak menggunakan sedikit oksigen.


















BAB II
KASUS RIIL KOROSI
“KOROSI PADA ATAP RUMAH YANG TERBUAT DARI SENG”

A.    SIFAT KIMIA DAN FISIKA PADA SENG
1.    Senyawa Seng
Terdapat berbagai jenis senyawa seng yang dapat ditemukan, seperti seng karbonat dan seng glukonat (suplemen makanan), seng klorida (pada deodoran), seng pirition (pada sampo anti ketombe), seng sulfida (pada cat berpendar), dan seng metil ataupun seng dietil di laboratorium organik.
Dalam bahasa sehari-hari seng dimaksudkan sebagai pelat seng yang digunakan sebagai bahan bangunan. Senyawa pada seng diambil dari bahasa Belanda yaitu zink adalah unsur kimia dengan lambang kimia Zn, nomor atom 30, dan massa atom relatif 65,39. Ia merupakan unsur pertama golongan 12 pada tabel periodik. Beberapa aspek kimiawi seng mirip dengan magnesium. Hal ini dikarenakan ion kedua unsur ini berukuran hampir sama. Selain itu, keduanya juga memiliki keadaan oksidasi +2. Seng merupakan unsur paling melimpah ke-24 di kerak Bumi dan memiliki lima isotop stabil. Bijih seng yang paling banyak ditambang adalah sfalerit (seng sulfida). Kuningan, yang merupakan campuran aloi tembaga dan seng, telah lama digunakan paling tidak sejak abad ke-10 SM. Logam seng tak murni mulai diproduksi secara besar-besaran pada abad ke-13 di India, manakala logam ini masih belum di kenal oleh bangsa Eropa sampai dengan akhir abad ke-16. Para alkimiawan membakar seng untuk menghasilkan apa yang mereka sebut sebagai "salju putih" ataupun "wol filsuf". Kimiawan Jerman Andreas Sigismund Marggraf umumnya dianggap sebagai penemu logam seng murni pada tahun 1746. Karya Luigi Galvani dan Alessandro Volta berhasil menyingkap sifat-sifat elektrokimia seng pada tahun 1800. Pelapisan seng pada baja untuk mencegah perkaratan merupakan aplikasi utama seng. Aplikasi-aplikasi lainnya meliputi penggunaannya pada baterai dan aloi.



2.    Sifat Kimia Seng
Sifat kimiawi seng mirip dengan logam-logam transisi periode pertama seperti nikel dan tembaga. Ia bersifat diamagnetik dan hampir tak berwarna. Jari-jari ion seng dan magnesium juga hampir identik. Oleh karenanya, garam kedua senyawa ini akan memiliki struktur kristal yang sama. Pada kasus di mana jari-jari ion merupakan faktor penentu, sifat-sifat kimiawi keduanya akan sangat mirip. Seng cenderung membentuk ikatan kovalen berderajat tinggi. Ia juga akan membentuk senyawa kompleks dengan pendonor N- dan S-. Seng cukup reaktif dan merupakan reduktor kuat. Permukaan logam seng murni akan dengan cepat mengusam, membentuk lapisan seng karbonat, Zn5(OH)6CO3, seketika berkontak dengan karbon dioksida. Lapisan ini membantu mencegah reaksi lebih lanjut dengan udara dan air.
Seng yang dibakar akan menghasilkan lidah api berwarna hijau kebiruan dan mengeluarkan asap seng oksida. Seng bereaksi dengan asam, basa, dan non-logam lainnya Seng yang sangat murni hanya akan bereaksi secara lambat dengan asam pada suhu kamar. Asam kuat seperti asam klorida maupun asam sulfat dapat menghilangkan lapisan pelindung seng karbonat dan reaksi seng dengan air yang ada akan melepaskan gas hidrogen.

3.    Sifat Fisika Seng
Tampilan fisik pada logam seng ini yaitu seng memiliki warna putih kebiruan, berkilau, dan bersifat diamagnetik. Walau demikian, kebanyakan seng mutu komersial tidak berkilau. Seng sedikit kurang padat daripada besi dan berstruktur kristal heksagonal. Terdapat banyak sekali aloi yang mengandung seng. Salah satu contohnya adalah kuningan (aloi seng dan tembaga). Logam-logam lainnya yang juga diketahui dapat membentuk aloi dengan seng adalah aluminium, antimon, bismut, emas, besi, timbal, raksa, perak, timah, magnesium, kobalt, nikel, telurium, dan natrium.
Logam seng ini memiliki sifat keras dan rapuh pada kebanyakan suhu, namun menjadi dapat ditempa antara 100 sampai dengan 150 °C. Di atas 210 °C, logam ini kembali menjadi rapuh dan dapat dihancurkan menjadi bubuk dengan memukul-mukulnya. Seng juga mampu menghantarkan listrik. Dibandingkan dengan logam-logam lainnya, seng memiliki titik lebur (420 °C) dan tidik didih (900 °C) yang relatif rendah. Dan sebenarnya pun, titik lebur seng merupakan yang terendah di antara semua logam-logam transisi selain raksa dan kadmium.

B.    KOROSI PADA ATAP RUMAH YANG TERBUAT DARI SENG
Seng merupakan salah satu bahan yang digunakan pada bangunan yaitu untuk penutup atap. Seng untuk atap ini banyak di dapatkan di toko bangunan. Ketebalan seng pada atap rumah yang digunakan yaitu berkisar kurang dari 1mm dengan ukuran panjang dan lebar berkisar 1830 mm X 915 mm. Seng yang digunakan sebagai penutup atap ini membentuk profil gelombang dengan lebar profil pada seng yaitu 76 mm, sedangkan tinggi profilnya yaitu 16 mm. Banyaknya gelombang pada seng tiap lembaran yang digunakan untuk atap ada 10 buah. Seng dipilih sebagai bahan pembuat atap karena memiliki beberapa kelebihan diantaranya memiliki bobot yang sendah, dari segi harga seng memiliki kelebihan yang relative murah dan terjangkau, serta pemasangan yang mudah sekaligus tidak memerlukan rangka atap yang terlalu banyak sehingga menghemat biaya,
Kelemahan penggunaan atap seng ini yaitu ketika hujan turun yang mengenai seng akan menimbulkan suara yang berisik dan air hujan yang banyak mengandung garam membuat seng pada atap rumah lebih mudah untuk terkena korosi ataupun karat. Selain kelemahan terhadap air hujan seng juga tidak mempunyai sifat isolasi panas & dingin artinya kalau udara di luar panas / dingin maka di dalam ruangan akan terasa lebih panas  / dingin  juga.
Berikut adalah tahapan-tahapan pengkorosian yang terjadi pada atap yang terbuat dari seng.
1.    Proses Awal yaitu mula terjadinya korosi pada atap rumah. Proses awal ini korosi yang terjadi masih sedekit sekali dan belum terlihat dengan terlalu jelas. Proses awal korosi pada atap yang terbuat dari seng seperti ditunjukan oleh gambar berikut ini.

2.    Setelah korosi mulai tampak pada atap rumah jika tidak segera dilakukan perlindungan maka korosi lambat laun akan menyebar dan penyebaran pada proses korosi kedua pada atap rumah ditunjukkan pada gambar berikut.
3.    Pada tahap ketiga penyebaran korosi semakin meluas dan mengkorosi hampir pada seluruh bagian lembaran seng. Berikut gambar proses pengkorosian ke-3 pada atap rumah yang terbuat dari seng.
4.    Tahap korosi pada atap rumah selanjutnya yaitu korosi melebar dan merata pada seluruh bagian atap yang terbuat dari seng. Korosi merata pada seng ditunjukkan oleh gambar berikut:
C.    PENYEBAB KOROSI PADA ATAP SENG
Sifat seng selama berada pada lingkungan atmosfir telah sering diperiksa pada tes yang dilakukan di seluruh dunia. Kinerja seng dalam lingkungan atmosfer dapat diramalkan dalam batas yang wajar. Perbandingan yang tepat dari perilaku seng pada lingkungan atmosfer yang korosif sedikit kompleks karena banyak faktor yang terlibat, seperti :
1.    Arah angin
2.    Intensitas asap korosif,
3.    Jumlah garam diudara
4.    Periode relatif dari kelembaban atau kondensasi dan kekeringan.
Secara umum diketahui bahwa laju korosi seng rendah; itu berkisar dari 0,13 pM / tahun di atmosfer pedesaan kering sedangkan untuk daerah industri yang lingkungan atmosfer lembab memiliki tingkat korosi 0,013 mm / tahun. Seng lebih tahan korosi daripada baja di atmosfer alam, pengecualian kondisi ini jika atmosfer dalam ruangan dimana lingkungannya korosif, baik baja dan seng sangat rentan terkena korosi tetapi tetap seng memiliki ketahanan yang lebih baik dari pada baja. Sebagai contoh, di atmosfer pantai laju korosi seng adalah sekitar 1 / 25 dari baja.
Faktor-faktor penting yang mengontrol tingkat di korosi seng yang digunakan untuk atap perumahan/ industri yaitu:
1.    Durasi dan frekuensi kelembaban
2.    Tingkat di mana permukaan mengering
3.    Tingkat polusi industri atmosfer.
Seng secara perlahan diserang oleh oksigen atmosfer pada udara kering,. Sebuah lapisan tipis oksida padat terbentuk pada permukaan seng, dan kemudian membentuk lapisan luar di atasnya. Meskipun kadang-kadang lapisan luar tersebut melepaskan diri, lapisan bawah tetap dan melindungi logam membatasi interaksi dengan oksigen. Dengan kondisi tersebut, yang terjadi di beberapa daerah beriklim tropis, seng teroksidasi dengan sangat lambat.
Atmosfer korosi telah didefinisikan untuk mencakup proses korosi yang terjadi di udara pada suhu antara -18 sampai 70 ° C di tempat terbuka dan di ruang tertutup dari segala jenis. Memburuknya korosi ini kadang-kadang disebut pelapukan. Definisi ini mencakup berbagai macam lingkungan dari tingkat corrosivities yang berbeda-beda. Faktor-faktor yang menentukan corrosivity atmosfer termasuk polusi industri, polusi laut, kelembaban, suhu (terutama penyebaran antara kelembapan tertinggi dan terendah yang mempengaruhi kondensasi dan penguapan) dan curah hujan.


D.    PROSES TERJADINYA KOROSI PADA SENG
Korosi dapat diartikan sebagai perubahan dari logam atau oksida logam atau perubahan logam dari yang bervalensi kosong menjadi berisi. Jadi korosi adalah logam-logam yang dapat berubah bilangan oksidasinya. Misalnya ; bilangan oksidasinya terus meningkat apabila terkena air maupun udara.
Contoh :    Seng terkena asam
Zn      +    2 HCl         -------------     ZnCl2    +     H2
Zn       -------------   Zn2+            
Artinya bilangan oksidasinya naik dari valensi kosong menjadi bervalensi 2
Pengertian korosi secara scientist adalah korosi sebagai peristiwa bereaksinya logam-logam dengan lingkungannya yang merusak sifat-sifat logam tersebut dan merugikannya. Peristiwa korosi seperti yang disebutkan di atas adalah peristiwa yang merugikan. Salah satu cara untuk menghindarinya adalah dengan mencat logam tersebut, tetapi harganya menjadi mahal.
Korosi logam melibatkan proses anodik, yaitu oksidasi logam menjadi ion dengan melepaskan elektron ke dalam (permukaan) logam dan proses katodik yang menyerap elektron tersebut dengan laju yang sama. Proses katodik biasanya merupakan reduksi ion hidrogen atau oksigen dari lingkungan sekitarnya.
Salah satu penyebab korosi pada atap seng adalah air hujan yang mengenai permukaan seng dimana mengandung asam.
Proses reaksi korosi dengan tingkat keasaman dalam lingkungan asam
Anode : Fe (s) → Fe2+(aq) + 2e [x 4] Eo = + 0,44 V
Fe2+(aq) → Fe3+(aq) + e [x 4] Eo = – 0,77 V
Katode : O2(g)+ 4H+(aq) + 4 e → 2 H2O (l) [x3] Eo = +1,23 V
Redoks : 4Fe(s) + 3O2(g) + 12H+(g) → 4Fe3+(aq) + 6H2O(l) Eo = +0,90 V
Ion Fe3+ yang terbentuk di anode kemudian teroksidasi lebih lanjut oleh air membentuk karat , besi (III) oksida :
4 Fe3+(aq) + 12 H2O (l) → 2 Fe2O3.6H2O (s) + 12H+ (aq) ( karat )



E.    KERUGIAN YANG DITIMBULKAN
Proses Korosi pada logam merupakan proses alamiah yang tidak bisa dicegah akan tetapi dapat dikendalikan. Dan apabila suatu komponen atau konstruksi mudah terkorosi pasti akan menimbulkan kerugian diantaranya:
-    Banyak komponen harus diganti dikarenakan terkorosi,
-    Pelanggan menjadi tidak puas karena produk mudah terkorosi
-    Masalah finansial yang rumit.
-    Kerugian dari segi keuangan yang membengkak karena korosi
Oleh karena itu pengembangan sumber daya manusia dan teknologi di dalam negeri, akan sangat membantu masyarakat untuk mendapatkan biaya penanggulangan yang relatif murah, dan mendapatkan alternatif pemecahan yang didasari oleh kemampuan sendiri.

F.    PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN KOROSI PADA ATAP SENG
1.    Pencegahan
Pencegahan yang dilakukan dalam menanggulangi terjadinya korosi pada atap seng ada 2 yaitu sebelum terjadi dan sesudah terjadi.
Sebelum terjadi korosi pencegahan yang dilakukan yaitu dengan cara:
    Pemberian lapisan cat dilakukan pada permukaan seng, sehingga faktor penyebab korosi tidak dapat mengenai seng secara langsung. Keunggulan lapisan cat pada sistem proteksi korosi mudah cara penerapannya, dapat dilapis ulang dan lapisannya memiliki nilai estetika. Faktor sangat penting yang mempengaruhi umur lapisan cat terletak pada kelayakan persiapan permukaan logam sebelum dilapisi cat.
    Pada permukaan seng diberi oli atau vaselin. Pemberian oli atau vaselin ini dapat menghambatan kontak langsung antara logam dengan oksigen atau air.
Setelah Terjadi korosi perlindungan yang dapat dilakukan yaitu dengan cara:
    Mengecat kembali seng apabila seng masih terkorosi awal sampai tahap 3.
    Apabila Korosi pada seng sudah merata dan menyebabkan keropos seng maka tindakan yang dilakukan yaitu dengan mengganti dengan seng yang baru dikarenakan jika seng sudah terkorosi merata dan keropos yang sudah parah maka akan menyebabkan seng berlubang sehingga jika terjadi hujan maka air hujan akan bocor.

2.    Pengendalian
Penanganan pada atap seng yang bocor adalah dengan menambal, selain biaya yang murah juga saat pengerjaan tidak mengganggu aktifitas yang berada dibawah atap tersebut. Biaya penambalan atap 1 m2 ± Rp. 50.000,-. Sebuah pungujian menunjukkan pada tahun 2002 diadakan penambalan atap seng, hingga tahun 2008 ini kondisi atap yang ditambal masih terlihat baik.
Bahan yg diperlukan untuk penambalan
a.    Elastex (contoh menggunakan buatan Nippon Paint) Seperti gambar dibawah :
b.    HCL

c.    Mett 455 (Serat Fiber)
d.    Cromet (Contoh merk yang digunakan bodalax metal primer zinc 900)
c.    Cat Silver
 Cara perlindungan dengan pelapisan pada seng yang berlubang:
a.    Korosi dibersihkan dengan sikat kawat
b.    Kemudan dikawaskan HCL
c.    Setelah benar-benar bersih dicat dengan Bodelax.
d.    Setelah kering lapiskan Met dan Elastex.
e.    Kemudian dicat dengan cat warna silver
f.    (untuk warna cat dapat disesuaikan dengan warna seng)











 BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Korosi adalah reaksi redoks antara suatu logam dengan berbagai zat di lingkungannya yang menghasilkan senyawa-senyawa yang tak dikehendaki. Dalam bahasa sehari-hari, korosi disebut perkaratan. Pada seng atap rumah terjadi korosi merata, adalah korosi yang terjadi secara serentak diseluruh permukaan logam, oleh karena itu pada logam yang mengalami korosi merata akan terjadi pengurangan dimensi yang relatif besar per satuan waktu. Kerugian langsung akibat korosi merata berupa kehilangan material konstruksi, keselamatan kerja dan pencemaran lingkungan akibat produk korosi dalam bentuk senyawa yang mencemarkan lingkungan. Sedangkan kerugian tidak langsung, antara lain berupa penurunan kapasitas dan peningkatan biaya perawatan (preventive maintenance).
 Salah satu cara pencegahan serangan korosi/karat terhadap atap seng adalah dengan cara menggunakan lapisan bahan organik atau cat. Pemberian lapisan cat dilakukan pada permukaan seng, dan pengendalian yang dilakukan apabila sudah terkorosi dan berlubang tapi belum parah yaitu dengan penambalan pada seng yang terkorosi tersebut. Sedangkan apabila korosi sudah parah dan mengikis seng yang sangat banyak alangkah baiknya seng tersebt diganti dengan yang baru.

B.    SARAN
Saran dalam pengendalian korosi ini yaitu janganlah menunggu suatu komponen/ material terkorosi tetapi cegahlah sebelum korosi tersebut terjadi,dan pencegahan yang dilakukan dalam kasus ini yaitu pada atap seng adalah dengan mengecat atap seng dan memberikan oli agar menghambat laju korosi.






SEMBER REFERENSI

http://teknikkimia2001.blogspot.it/2009/02/pengertian-korosi_20.html diakses pada 5 januari 2014
http://mcnugraha.wordpress.com/category/jenis-korosi/ diakses pada 5 januari 2014
http://mcnugraha.wordpress.com/2011/05/02/jenis-jenis-korosi-2/ diakses pada 5 januari 2014
http://simplenotedap.blogspot.it/2011/12/korosi-pasa-seng.html diakses pada 5 januari 2014
http://www.ilmusipil.com/jenis-atap-rumah diakses pada 5 januari 2014
http://aprilina05.wordpress.com/2010/01/18/korosi-dan-pencegahannya-dalam-kehidupan-sehari-hari/ diakses pada 5 januari 2014











Read More ->>

Jumat, 03 Januari 2014

PENGENDALIAN KOROSI


A.    PENGERTIAN KOROSI

Korosi adalah penurunan mutu logam akibat reaksi elektro kimia dengan lingkungannya. Korosi atau pengkaratan merupakan fenomena kimia pada bahan – bahan logam yang pada dasarnya merupakan reaksi logam menjadi ion pada permukaan logam yang kontak langsung dengan lingkungan berair dan oksigen. Contoh yang paling umum, yaitu kerusakan logam besi dengan terbentuknya karat oksida. Dengan demikian, korosi menimbulkan banyak kerugian.

Korosi logam melibatkan proses anodik, yaitu oksidasi logam menjadi ion dengan melepaskan elektron ke dalam (permukaan) logam dan proses katodik yang mengkonsumsi electron tersebut dengan laju yang sama : proses katodik biasanya merupakan reduksi ion hidrogen atau oksigen dari lingkungan sekitarnya.

Korosi merupakan proses atau reaksi elektrokimia yang bersifat alamiah dan berlangsung dengan sendirinya, oleh karena itu korosi tidak dapat dicegah atau dihentikan sama sekali. Korosi hanya bisa dikendalikan atau diperlambat lajunya sehingga memperlambat proses perusakannya. Dilihat dari aspek elektrokimia, korosi merupakan proses terjadinya transfer elektron dari logam ke lingkungannya. Logam berlaku sebagai sel yang memberikan elektron (anoda) dan lingkungannya sebagai penerima elektron (katoda). Reaksi yang terjadi pada logam yang mengalami korosi adalah reaksi oksidasi, dimana atom-atom logam larut kelingkungannya menjadi ion-ion dengan melepaskan elektron pada logam tersebut. Sedangkan dari katoda terjadi reaksi, dimana ion-ion dari lingkungan mendekati logam dan menangkap elektronelektron yang tertinggal pada logam.


B.    SYARAT TERJADINYA KOROSI
Adapun syarat terjadinya korosi adalah :
- Adanya katoda
- Adanya anoda
- Adanya lingkungan
Tanpa adanya salah satu syarat di atas maka korosi tidak akan terjadi. Korosi tidak dapat di hilangkan tetapi hanya dapat di minimalisir pertumbuhannya.
Pada proses korosi  ada dua reaksi yang menyebabakan terjadinya korosi yaitu reaksi oksidasi dan reaksi reduksi. Pada reaksi oksidasi akan terjadi pelepasan elektron oleh material yang lebih bersifat anodik. Sedangkan reaksi reduksi adalah pemakaian elektron oleh material yang lebih bersifat katodik.
Proses korosi secara galvanis dapat kita lihat pada gambar berikut :

  
Proses Korosi
Pada reaksi di atas dapat kita lihat dimana Cu bertindak sebagai katoda mengalami pertambahan massa dengan melekatnya electron pada Cu. Sedangkan Zn bertindak sebagai anoda, dimana terjadinya pengurangan massa Zn yang di tandai dengan lepasnya electron dari Zn. Peristiwa pelepasan dan penerimaan elektron ini harus mempunyai lingkungan, dimana yang menjadi lingkungan adalah Asam Sulfat.  Jika ada dua buah unsur yang di celupkan dalam larutan elektrolit yang di hubungkan dengan sumber arus maka yang akan mengalami korosi adalah material yang lebih anodik.

C.    FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOROSI
- Jenis dan konsentrasi elektrolit
- Adanya oksigen terlarut pada elektrolit
- Temperatur tinggi
- Kecepatan gerakan elektrolit
- Jenis logam/paduan
- Adanya galvanic cell
- Adanya tegangan (tarik)

D.    MEKANISME KOROSI
Proses korosi dapat terjadi apabila sekurang-kurangnya terdapat sepasang reaksi oksidasi dan reduksi yang berlangsung secara serempak dengan kecepatan reaksi yang sama.
Reaksi Anodik dan Katodik
Reaksi anodik dalam setiap proses korosi merupakan reaksi oksidasi suatu logam menjadi ionnya yang ditandai dengan kenaikan valensi atau pelepasan elektron. Secara umum reaksi anodik dapat dituliskan sebagai berikut:
M → Mn+ + ne-, di mana n adalah jumlah elektron yang dihasilkan dan besarnya sama dengan valensi ion logam yang terkorosi. Reaksi katodik dalam setiap proses korosi merupakan reaksi reduksi yang ditandai dengan penurunan valensi atau penyerapan elektoron. Ada beberapa reaksi katodik yang berbeda yang sering dijumpai dalam proses korosi logam, yaitu:
Suasana asam:
    Tanpa oksigen: 2H+ + 2e- → H2 ……………………………………..     (1)
    Dengan oksigen: 4H+ + O2 + 4e- → 2H2O …………………………..     (2)
Suasana basa atau netral: 2H2O + O2 + 4e- → 4OH- ……………………     (3)
Reduksi ion logam:
    Mn+ + ne- → M ………………………………………………….…..     (5)
    Mn+ + e- → M(n-1)+ ……………………………………………..….     (6)
Dari sekian banyak reaksi katodik, yang umum dijumpai adalah reaksi (1), (2) dan (3). Dari sini dapat disimpulkan bahwa peranan air dan oksigen sangat dominan dalam proses korosi.

E.    DASAR PENGENDALIAN
Dasar pengendalian korosi secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu:
1. Membuat logam tahan korosi.
Metode ini dimaksudkan untuk memperoleh ketahanan korosi dari logam dalam lingkungan tertentu. Metode ini akan melibatkan ahli metalurgi. Ketahanan korosi dari logam dapat diperoleh karena pada permukaan logam dapat dihindarkan adanya daerah-daerah anodik dan katodik, atau menjadikan permukaan logam tertutup oleh lapisan yang protektif seperti baja tahan karat dan sebagainya. Metode ini akan mengakibatkan harga logam menjadi tinggi.

2. Membuat lingkungan menjadi tidak korosif.
Metode ini umumnya dilakukan dengan menggunakan zat kimia yang ditambahkan ke dalam lingkungan elektrolit. Metode ini cocok untuk lingkungan yang terbatas dan terkontrol. Zat kimia yang ditambahkan dapat mempengaruhi reaksi di anoda, katoda ataupun keduanya, sehingga proses korosi diperlambat. Zat kimia yang ditambahkan disebut sebagai inhibitor.

3. Membalikkan arah korosi.
Tujuan metode ini adalah membalik arus arah korosi sehingga proses korosi logam dikurangi atau bahkan ditiadakan sama sekali. Metode ini umumnya disebut sebagai proteksi katodik, di mana proses korosi dicegah dengan jalan memperlakukan logam yang dilindungi sebagai katoda.

4. Memisahkan logam dari lingkungan.
Metode ini merupakan yang paling populer dan banyak digunakan. Metode ini meliputi pelapisan dengan lapis lindung organik atau anorganik (logam dan bukan logam). Teknik perlindungan dapat dilakukan dengan pengecatan, semprot, lapis listrik, celup dan sebagainya. Untuk proses lapis listrik (elektroplating), logam yang umum digunakan untuk melapis adalah kadmium, krom, tembaga, emas, timah putih, timah hitam, nikel, perak dan seng. Sedangkan untuk paduan antara lain kuningan, perunggu, nikel-besi dan sebagainya. Dilihat dari fungsi proteksinya, jenis logam pelindung dapat dibagi menjadi dua. Golongan pertama adalah logam yang bersifat sacrificial, yaitu logam yang bersifat lebih anodis dari logam yang dilindungi sehingga akan habis terlebih dahulu. Golongan kedua adalah logam yang betul-betul melindungi sehingga bersifat katodis dan mengisolasi permukaan bahan agar terpisah dari lingkungan.

F.    METODE PENGENDALIAN KOROSI
Metoda-metoda yang di lakukan dalam pengendalian korosi adalah :
- Menekan terjadinya reaksi kimia atau elektrokimianya seperti reaksi anoda dan katoda
- Mengisolasi logam dari lingkungannya
- Mengurangi ion hydrogen di dalam lingkungan yang di kenal dengan mineralisasi
- Mengurangi oksigen yang larut dalam air
- Mencegah kontak dari dua material yang tidak sejenis
- Memilih logam-logam yang memiliki unsure-unsur yang berdekatan
- Mencegah celah atau menutup celah
- Mengadakan proteksi katodik,dengan menempelkan anoda umpan.

G.    PENGENDALIAN KOROSI DENGAN PELAPISAN
Metode pelapisan adalah suatu upaya mengendalikan korosi dengan menerapkan suatu lapisan pada permukaan logam besi. Misalnya, dengan pengecatan atau penyepuhan logam.
Penyepuhan besi biasanya menggunakan logam krom atau timah. Kedua logam ini dapat membentuk lapisan oksida yang tahan terhadap karat (pasivasi) sehingga besi terlindung dari korosi. Pasivasi adalah pembentukan lapisan film permukaan dari oksida logam hasil oksidasi yang tahan terhadap korosi sehingga dapat mencegah korosi lebih lanjut.
Logam seng juga digunakan untuk melapisi besi (galvanisir), tetapi seng tidak membentuk lapisan oksida seperti pada krom atau timah, melainkan berkorban demi besi. Seng adalah logam yang lebih reaktif dari besi, seperti dapat dilihat dari potensial setengah reaksi oksidasinya:

Zn(s) →Zn2+(aq) + 2e–    Eo= –0,44 V
Fe(s) →Fe2+(g) + 2e–      Eo= –0,76 V
Oleh karena itu, seng akan terkorosi terlebih dahulu daripada besi. Jika pelapis seng habis maka besi akan terkorosi bahkan lebih cepat dari keadaan normal (tanpa seng).
Paduan logam juga merupakan metode untuk mengendalikan korosi. Baja stainless steel terdiri atas baja karbon yang mengandung sejumlah kecil krom dan nikel. Kedua logam tersebut membentuk lapisan oksida yang mengubah potensial reduksi baja menyerupai sifat logam mulia sehingga tidak terkorosi.

H.    PERLINDUNGAN DENGAN ANODIK DAN KATODIK
Proteksi katodik adalah metode yang sering diterapkan untuk mengendalikan korosi besi yang dipendam dalam tanah, seperti pipa ledeng, pipa pertamina, dan tanki penyimpan BBM. Logam reaktif seperti magnesium dihubungkan dengan pipa besi. Oleh karena logam Mg merupakan reduktor yang lebih reaktif dari besi, Mg akan teroksidasi terlebih dahulu. Jika semua logam Mg sudah menjadi oksida maka besi akan terkorosi. Proteksi katodik ditunjukkan pada gambar dibawah.



Reaksi yang terjadi dapat ditulis sebagai berikut.
Anode : 2Mg(s) → 2Mg2+(aq) + 4e
Katode : O2(g) + 2H2O (l) + 4e → 4OH(aq)
Reaksi : 2Mg(s) + O2(g) + 2H2O → 2Mg(OH)2(s)
Oleh sebab itu, logam magnesium harus selalu diganti dengan yang baru dan selalu diperiksa agar jangan sampai habis karena berubah menjadi hidroksidanya.
Read More ->>

Aspek-aspek pengujian korosi



    Pendahuluan
Pemilihan material konstruksi logam atau material untuk penanggulangan korosi secara cermat dan tepat dimaksudkan untuk menghemat biaya pemeliharaan dan meningkatkan umur pelayanan konstruksi logam. Disamping itu juga untuk menghindari kerugian materi melalui penghentian sementara produktifitas atau kerusakan pradini karena proses korosi dari material konstruksi logam tersebut.
Banyak jenis / produk dari material logam dan material untuk penanggulangan korosi dipasaran yang mana pengujian untuk mengetahui / memahami spesifikasi yang dimiliki dari masing-masing material tersebut, supaya kita akan mampu meramalkan pelayanan atau mungkin dapat memperbaiki spesifikasinya untuk penggunaan dalam kondisi tertentu. Oleh karena itu pengujian korosi sangat penting bagi mereka yang berkecimpung khususnya dalam bidang corrosion engineering, produksi dan pemakaian material-material tersebut yang lebih mahal dari yang  sebenarnya.
Spesifikasi material-material dari produsen dapat digunakan sebagai pedoman awal bagi kita dalam pemilihan material-material tersebut. Akan tetapi sebaiknya kita tidak begitu saja menerima spesifikasi material yang telah dikeluarkan oleh produsen, kita perlu terlebih dahulu mengevaluasi spesifikasi tersebut melalui pengujian sendiri bedasarkan standar yang telah diakui (seperti ASTM, NACE, JIS, DIN, dan sebagainya ) atau melalui instansi independent yang terkait, sebelum material-material tersebut diterima sebagai produk standar. Jadi pengujian korosi merupakan cara untuk menyakinkan kita bahwa material-material yang kita buat  atau beli benar-benar memiliki kemampuan seperti yang diharapkan.
Pada umumnya pengujian korosi dilakukan dengan suatu tujuan  yang spesifik. Perencanaan dan pelaksanaan yang baik biasanya akan mendapatkan hasil yang “reproducible” dan “reliability”, kedua faktor ini sangat penting dalam pengujian korosi. Pengujian korosi dan aplikasi dari hasilnya dianggap menjadi aspek yang sangat penting dalam corrosion engineering. Banyak pengujian korosi dilakukan untuk pemilihan material / konstruksi peralatan dalam proses industri. Oleh karena itu pengujian duplikasi serupa mungkin dengan kondisi pelayanan pabrik yang sebenarnya adalah sangat penting.
Karena banyak jenis dari material logam dan material untuk penanggulangan korosi serta aplikasinya sehingga ruang lingkup pengujian korosi sangat luas dan bervariasi, maka tidaklah mungkin untuk membahas semua tahap pengujian. Oleh karena itu ruang lingkupnya hanya akan dibatasi pada prinsip-prinsip pengujian korosi yang umum dilakukan terhadap material-material logam dan material-material untuk penanggulangan korosi. Pengujian korosi ada yang sangat sederhana yang mana pengujiannya dapat diselesaikan dalam waktu yang relatip singkat dan juga ada yang komplek, yang mana memerlukan pekerjaan gabungan dari beberapa peneliti serta data penunjang lainnya yang diperlukan sehingga untuk menyelesaikan pengujian tersebut membutuhkan waktu yang relatip cukup lama.

    Tujuan Pengujian
Pengujian korosi juga dapat dibagi menurut tujuannya, tujuan –tujuan ini tergantung pada masing-masing ruang lingkup kerjanya yang meliputi :
    Penelitian dasar
Dengan berkembangnya teknologi dan tuntutan kebutuhan material logam dan material untuk penanggulangan korosi, maka para ahli terus mencoba melakukan penelitian dasar untuk mengetahui/menentukan bagaimana dan mengapa suatu bentuk khusud dari korosi terjadi. Sasaran dari penelitian dasar tidak perlu terikat pada suatu produk atau penggunaan khusus. Pengujin- pengijian pada penelitian dasar kebanyakan dilakukan dalam suatu laboratorium dengan menggunakan benda- benda uji kecil dan teknik khusus yang disesuaikan penelitian.

    Pengembangan bahan atau produk
Dikarenakan ada banyak persaingan dari produk tertentu serta aplikasinya, maka setiap produsen terus mencoba melakukan penelitian untuk menemukan atau memodifikasi produk- produk baru yang lebih spesifik dapat berprestasi baik dengan harga yang lebih murah, efisien, awet dan aman dari pada produk- produk yang sekarang digunakan. Informasi yang diperoleh dapat membantu dalam pemilihan material akan di uji untuk aplikasi spesifik. Penyertaan pengujian pada material lain yang telah diketahui untuk penggunaan komersil dalam lingkungan tertentu akan bermanfaat sebagai pembanding. Sasaran pengujian pada pengembangan produk baru terikat langsung yang berhubungan dengan aplikasinya. Dalam hal material baru, data yang diperroleh dari hasil pengujian akan memberikan informasi mengenai aplikasi yang mungkin.

    Pemilihan material
Langkah peretama yang perlu diperhatikan sebelum mendisain konstruksi jembatan, pabrik, automobil dan sebagainya, kita harus dapat mentukan material- material mana yang sebaikya digunakan dari sekian banyak jenis material yang ada. Oleh karena itu pemilihan maerial merupakan faktor yang sangat menentukan dalam keberhasilan suatu konstruksi cara yang terbaik dalam pemilihan material disamping berpedoman pada spesifikasi dari produsen, kita perlu jugamelakukan evaluasi dari spesifikasinya melalui pengujuan- pengujian, sehingga kita dapat mrnentukan material secara tepat yang diinginkan . Salah satu yang hrus dipertimbangkan juga dalam pemilihan material adalah kecocokan dari material-material berbeda jenis, yang akan dihubungkan secara langsung dalam suatu konstruksi. Pengujian-,pengujian untuk pemilihan material harus dilakukan sesuai yang berhubungan dengan penggunaan akhir dari material itu sendiri dan waktunya harus relatip tidak lama sehingga tidak menggangu perencanaan konstruksi.

    Kontrol kualitas
Pada umumnya kontrol kwalitas merupakan pengujian rutin bagi produsen untuk memeriksa kwalitas baru sejumlah produk yang dianggar dapat mewakili dari variasi-variasi prodiksi. Pengujuan ini bisa tidak berhubungan langsung dengan pelayanan yang diharapkan tapi kadang- kadang dihubungkan dalam spesifikasi sebagai pengujuan pendukung. Kontrol kwalitas juga diperlukan bagi pemakai setelah melakukan pemilihan material, untuk mengetahui apakah kwalita dari marial yang telah diproduksi sama seperti yang dispesifikasikan. Dalam beberapa hal pengujian periodic diperlukan untuk menentukan perubahan dalam agresivitas dari lingkungan dikarenakan perubahan operasi temperature, proses bahan baku, konsentrasi larutatan atau perubahan lainnya yang sering di anggap remeh dari segi korosi oleh personil operasi.
Pengujian korosi untuk kualitas merupakan cara untuk menyakinkan kita bahwa material yang dibuat/ dibeli / dipilih benar-benar memiliki kualitas yang sama dan memenuhi spesifikasi yang seperti diharapkan. Pengujian kontrol kualitas dilakukan dalam laboratorium dan waktunya harus relatif cepat untuk menghindari penundaan pengiriman / pelaksanaan.

    Pemeliharaa
Pengujian korosi adalah penting dalam pemeliharaaan konstruksi dan peralataan yang sedang / masih dalam operasi. Pengujian secara periodic dalam pemeliharaan bisa menentukan apakah konstruksi / peralatan tersebut masih memenuhi persyaratan disain dan pengujiannya dapat dilakukan di laboratorium melalui pemotongan spesimen atau dilapangan melalui pengeksposan benda uji / pemantauan konstruksi atau peralatan tersebut pada kondisi operasi. Pengujian ini juga menghasilkan informasi praktis untuk pemilihan material yang mungkin dapat diaplikasikan pada konstruksi yang akan datang.

    Analisa kerusakan
Analisa kerusakan juga merupakan bagian dari pengujian korosi. Kerusakan-kerusakan yang terjadi apakah disebabkan darri kesalahan-kesalahan seperti disain, aplikasi, kondisi operasi, lingkungan atau juga disebabkan metoda dan material yang kurang sesuai dengan fungsinya.
Analisa kerusakan dilakukan pada baagian yang gagal melalui pemeriksaan kerusakan tersebut dan pengujian-pengujian untuk menentukan penyebabnya atau mungkin juga cara penanggulangannya.
Prosedur pemeriksaan kerusakan pada bagian yang gagal biasanya melibatkan :
    pengamatan secara visual / mikroskopik / makroskopik.
     analisa komposisi kimia ; metal, produk korosi dan bahan-bahan asing lainnya.
     kronologis dari material logam tersebut dan kondisi operasinya kadang-kadang diperlukan.
Teknik troubleshooting ini adalah penting karena akan mendapatkan informasi mengenai penampilan dari suatu material pada kondisi operasi yang sebenarnya.

    Klasifikasi Pengujian Korosi
Pengujian korosi dibagi menjadi 4 jenis klasifikasi :
    Pengujian laboratorium
    Pengujian pilot plant
    Pengujian pelayanan pabrik yang sebenarnya   
    Pengujian lapangan
Klasifikasi 3 dan 4 dapat digabungkan, tetapi untuk menghindari keracunan dalam termologi, maka perlu dilakukan perbedaan sebagai berikut :
Klasifikasi 3 melibatkan pengujian spesimen dalam pelayanan pabrik yang sebenarnya, sedangkan klasifikasi 4 melibatkan pengujian lapangan yang didisain untuk memperoleh informasi secara umum. Misalnya pengujian lapangan melalui pengeksposan atmosferik dari sejumlah besar benda uji dalam rak pada satu atau lebih lokasi geografis dan pengujian lain dalam tanah atau air laut.

    Pengujian Laboratorium
Pengujian laboratorium dilakukan dengan menggunakan zat-zat kimia murni, yang terbaik dengan lingkungan atau larutan dari pabrik yang sebenarnya dan waktu pengujiannya relatip singkat. Kondisi pengujian dapat disimulasikan dan dikontrol dengan teliti sesuai dengan aplikasinya. Setiap pengujian harus reproducible dalam pengujian-pengujian ulang dengan waktu yang tetep. Hal ini adalah penting terutama bila digunakan metoda baru atau bila bahan baru / bahan rakitan perlu dievaluasi. Bila “reproducibility” dapat diperoleh, maka data yang berbeda merupakan refleksi dari perbedaan dalam ketahanan korosi dari bahan-bahan yang diuji. Pengujian laboratorium biasanya dilakukan dengan menggunakan benda uji kecil serta bentuk dan ukurannya yang spesifik. Benda-benda uji seperti ini relatip murah dan mudah dibuat ulang.
Benda uji rakitan dapat juga diuji di laboratorium, hal ini biasanya dilakukan secara terbatas untuk mengetahui korelasi antara pengujian-pengujian dengan benda uji kecil dan benda rakitan tersebut.
Pengujian laboratorium bertujuan untuk menilai sifat-sifat korosi logam dan akan memberikan indikasi dini apa yang akan terjadi sebenarnya dalam praktek. Waktu yang diperlukan untuk suatu indikasi tergantung tujuan dan sifat pengujian.
Salah satu metode sederhana yang dapat digunakan untuk menentukan laju korosi adalah dengan menghitung kehilangan berat atau weight loss. Metode ini dilakukan dengan merendam sampel logam dalam media korosif tertentu. Pengujian ini biasa disebut uji perendaman, atau immersion test. Pengujian ini digolongkan sebagai uji yang dipercepat, atau accelerated test.
Jika suatu sampel logam M yang memiliki berat jenis D g/cm3 dengan luas permukaannya A in2, dan setelah direndam dalam larutan X selama t jam, beratnya berkurang sebesar W miligram, maka laju korosi logam M dalam larutan X dapat dihitung berdasarkan formula berikut:
mpy = (534.W)/(D.A.T)
Keterangan :
   mpy  = milli inch per year (laju korosi)
   W     = berat yang hilang (mg)
   D      = berat jenis logam (gr/cm3)
   A      = luas permukaan yang terkorosi (inch2)
   T       = waktu uji korosi (jam)
Sebagai catatan, bahwa rumus di atas dapat digunakan dengan asumsi bahwa logam M mengalami serangan korosi merata dalam larutan X.

    Pengujian Pilot Plant
Pengujian ini dilakukan dalam pabrik skala kecil yang pada dasarnya duplikasi dari operasi skala besar. Bahan baku , konsentrasi larutan, temperatur, kecepatan yang sebenarnya dan volume cairan untuk kontak dengan area / logam dilibatkan.
Pengujian pilot plant memerlukan waktu yang cukup lama untuk menjamin hasil yang baik. Benda-benda uji dapat diekspos dalam pilot plant dan peralatan-peralatan itu sendiri dapat dipelajari dari segi korosi. Salah satu kerugian yang mungkin adalah bahwa kondisi operasi sangat bervariasi dalam usaha untuk mencari kondisi yang optimum. Oleh karena itu pencatatatan dan penyimpanan seluruh data harus dilakukan dengan teliti dan baik selama proses pilot plant beroperasi. Pengujian pilot plant untuk memperoleh beberapa data korosi dibawah kondisi operasi.

    Pengujian Pelayanan Pabrik yang Sebenarnya
Pengujian pabrik dilakukan melalui pengeksposan benda uji atau pemantauan konstruksi / peralatan pada pabrik yang sedang operasi. Pengujian ini adalah penting untuk mengevaluasi material yang lebih baik dan lebih ekonomis atau dalam menyelidiki perilaku korosi dari material yang ada selama kondisi proses dan akan memberikan dasar yang logis untuk pembangunan pabrik produksi yang selanjutnya. Pengujian pabrik akan memberikan informasi yang lebih dekat pada penggunaan akhir yang sebenarnya dan waktu yang diperlukan untuk mencapai sasarannya relatip cukup lama.

    Pengujian Lapangan
Pengujian lapangan ialah pengujian terhadap laju korosi yang dilakukan langsung pada lapngan atau lingkungan sesungguhnya. Sebagai contoh pengujian lapangan melalui pengeksposan atmosferik dari sejumlah besar benda uji dalam rak pada satu atau lebih lokasi geografis dan pengujian lain dalam tanah atau air laut.
   
Prosedur Pengujian
Adapun prosedur pengujian yang umum dilakukan adalah sebagai berikut:
    Pengadaan Bahan Uji (specimen)
Tahap pertama yang harus dilakukan dalam pengujian korosi adalah pengadaan bahan uji. Dalam beberapa hal, seperti pada pengujian untuk control kualitas ataau analisa kerusakan, jenis dan jumlah bahan yang akan diuji harus ditentukan terlebih dahulu. Dalam hal lainnya, kebebasan memilih bahan uji lebih luas. Untuk menghindari keraguan dan meningkatkan kepercayaan dari pengujian, sebagian besar laboratorium, perusahaan menyimpan persediaan material untuk keperluan pengujian korosi. Material-material logam atau paduan komersial yang diperlukan untuk pengujian, sebaiknya diperoleh dari pabrik yang mewakili produksi dalam jumlah yang cukup besar da benda-benda uji dibuat dari material-material tersebut. Persediaan bahan dan benda uji segera diidentifikasi dengan nomor referensi. Kronologis pabrikasi material uji yang mencakup tahapan pabrikasi bersamaan dengan analisa komposisi logam yang tepat diperlukan; paling tidak, material-material harus sebagai mana adanya dalam batas komposisi yang dispesifikasikan dan memenjuhi persyaratan kekuatan / kekerasan yang dijamin melalui proses “tempering”. Pemeriksaan mikroskopik juga mungkin diperlukan untuk menjamin bahwa material ada dalam kondisi metalurgis yang cocok. Informasi-informasi dasar tersebut dapat menghindarkan kemungkinan-kemungkinan kesalahan dan evaluasi sebagai akibat komposisi yang salah atau proses “tempering” yang tidak cocok.
Jika informasi yang lengkap pada material-material non standar tidak diketahui, data yang diperoleh dalam praktek kemungkinan tidak bermanfaat. Hal ini mungkin secara praktis tidak ekonomis untuk merakit dan menggunakan logam non standar dalam peralatan produksi. Dalam menghadapi hal semacam ini, sebelum mengedarkan ke pasaran, harus dilakukan evaluasi beberapa kali menggunakan benda-benda uji dari sejumlah material yang cukup besar yang dianggap mewakili dari variasi produksi. Evaluasi dari beberapa kelompok produksi diperlukan, karena sering terjadi bahwa hasil-hasil pengujian dari satu kelompok produksi material tidak reproducible pda kelompok produksi material lainnya.
Pertimbangan lainnya yang perlu diperhatikan adalah bentuk logam yang akan diuji. Logam dan paduan yang tersedia dalam bentuk tempa dan cetakan, kedua bentuk ini tidak dapat dipertukarkan dalam pengujian. Bermacam cara pencetakan (seperti dies casting, permanent mold dan sand mold) dan pengerjaan (seperti drawing, extruding, forging dan rolling) akan mempengaruhi struktur butiran dan homogenitas yang mana akan mempengaruhi juga terhadap daya tahan korosi. Logam yang disediakan untuk pengujian sedapat mungkin harus mirip dengan tipe yang akan digunakan dalam produk akhir. Dalam tipe tertentu dari pengujian korosi, seperti pengujian terhadap kecocokan dengan larutan-larutan zat kimia atau evaluasi terhadap lapisan protektif, pertimbangan struktur butiran mungkin tidak kritis. Dalam hal demikian, batangan logam hasil dari pencetakan atau lembaran logam hasil pengerolan sangat umum digunakan untuk pengujian karena mudah diperoleh dan dipabrikasi menjadi benda uji. Jika konstrruksi / peralatan terbuat dari hasil bahan cetakan, benda uji yang diperlukan untuk pengujian harus dari bahan cetakan tersebut. Demikian halnya bila konstruksi / peralatan terbuat dari hasil bahan tempaam atau bahan pengerolan, benda uji dari bahan hasil pengerolan harus digunakan. Hal-hal yang perlu diperhatikan bilamana menggunakan benda uji dari hasil pengerolan adalah perbandingan antara area yang di rol dengan area pinggiran hasil dari pemotongan harus besar. Dari hasil eksperimen telah menunjukkan bahwa bagian pinggir dari hasil pemotongan bisa terkorosi dua kali lebih cepat dibandingkan dengan permukaan yang di rol. Hal ini akan mengakibatkan kesalahan dalam evaluasi.

    Pembuatan Benda Uji (manufacture of test specimens)
Setelah terpilih dan tersedianya bahan uji, tahap berikutnya adalah pembuatan benda uji, pertimbangan-pertimbangan berikut yang perlu diperhatikan :

    Ukuran dan bentuk benda uji
Ukuran dan bentuk benda uji sangat bervariasi, dan akan terbatas dengan bahan yang akan diuji dan lingkungan uji, disamping itu juga harus disesuaikan dengan jenis dan metode pengujian.

    Kecocokan terhadap metoda evaluasi
Jenis benda uji yang digunakan harus mudah dievaluasi. Jika beberapa karakteristik akan dievaluasi, mungkin diperlukan lebih dari satu jenis benda uji.

    Pemeriksaan visual
Pemeriksaan visual benda uji harus dilakukan dalam semua pengujian korosi. Bila penampilan dari produk akhir adalah penting, seperti untuk dekoratif atau aplikasi arsitek, maka permukaan yang cukup luas harus digunakan untuk memungkinkan penilaian yang dapat dipertanggung jawabkan, seandainya korosi tidak merata. Benda uji yang relatip kecil dapat memberikan penilaian yang keliru.

    Kedalaman serangan korosi
Benda uji yang digunakan untuk mengevaluasi korosi melalui pengukuran kedalaman serangan korosi harus cukup tebal sehingga benda uji tersebut tidak dilubangi oleh korosi. Selain dari pertimbangan ketebalan benda uji, tidak ada ukuran atau bentuk khusus yang diperlukan tetapi ukuran dan luas dari benda uji akan menentukan jumlah lingkungan uji yang diperlukan (setiap 1 cm2 luas permukaan benda uji yang diuji membutuhkan larutan uji sebanyak 40 cm3 ASTM G-7 ). Disamping itu, benda uji harus cukup besar atau jumlah yang cukup dari benda-benda uji kecil harus diekspos untuk memasukkan semua penilaian yang penting dari variable metalurgis dan manufacturing.

    Pengurangan atau penambahan berat
Pengukuran perubahan berat juga tidak memerlukan suatu ukuran atau bentuk benda uji tertentu tetapi perbandingan luas dengan volume lingkungan uji ( A/V ) digunakan untuk sensitifitas.Biasanya bentuk segi empat, digunakan untuk memudahkan pengukuran luas permukaan, yang ikut serta dalam formula untuk menghitung laju korosi.
Ukuran benda uji yang kecil lebih disukai karena lebih akurat dalam penimbangan dan pengukuran dimensi, khususnya untuk pengujian dengan waktu yang relatip singkat atau bilamana laju korosinya rendah. Dalam praktek, penggunaan suatu ukuran dari bentuk yang standar untuk semua benda uji dalam serangkaian pengujian yang dilakukan, agar supaya luas permukaan yang diekspos sama dan derajat akurasi yang sama dalam pengukuran dan perhitungan. Benda uji standar yang sering digunakan dalam standar ASTM adalah 4 x 20 cm dan tebal 1,5 mm.

    Penurunan dalam sifat-sifat tensil
Jika pengaruh korosi terhadap penurunan sifat-sifat tensil pada logam / paduannya dievaluasi, prosedur yang terbaik dengan menggunakan salah satu benda uji dari standar ASTM. Dalam hal ini, benda uji dapat di preparasi secara lengkap sebelum pengeksposan atau dapat di preparasi di panel yang terkorosi setelah pengujian korosi berakhir.
Benda uji yang dipreparasi sebelum pengeksposan akan memberikan indikasi dini dari pengaruh korosi, tetapi indikasi derajat penurunan dalam sifat tensil, khususnya “elongation” biasanya sangat tinggi dikarenakan dari pengaruh takikan yang dihasilkan oleh korosi pada bagian pinggir benda uji. Penilaian yang lebih realities dari penurunan kekuatan dan elongation dapat diperoleh melalui preparasi benda uji dari panel uji yang terkorosi dan dalam cara ini akan menghindari pengaruh korosi pada bagian pinggir.

     Pengujan korosi tegang
Pemilihan benda uji untuk pengujian korosi tegang adalah kompleks tetapi terutama tergantung pada kemampuan untuk menerima dan mempertahanjan tegangan yang besarnya diketahui dan untuk menerima tegangan ini secara uniform dalam arah metalurgis yang spesifik.

        Korositifitas dari lingkungan uji
Faktor kedua yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan pengujian korosi dari suatu benda uji adalah korositifitas lingkungan uji. Waktu pengujian yang singkat dan benda uji yang tebal diperlukan bila kondisi pengujian sangat korosif. Sebaliknya, bila kondisi pengujian tidak korosif maka benda uji yang tipis dan kecil diperlukan.

        Kecocokan dengan pengujian lainnya
Faktor-faktor selain dari logam dan lingkungan yang akan dinilai, kita harus yakin bahwa benda uji cocok dengan tujuan pengujian yang khusus. Misalnya lapis linding cat atau lapis lindung logam akan dievaluasi, bagian pinggir dan sudut dari benda uji harus ditumpulkan sebelum pelapisan. Lapisan-lapisan yang tipis pada bagian pinggir / sudut yang tajam dan ini merupakan titik lemah yang tidak realistic untuk permulaan korosi. Jika proteksi katodik akan dievaluasi, perbandingan ukuran katoda / anoda dan geometrinya harus diketahui dan dikontrol.


    Preparasi Benda Uji ( surface preparation)
Untuk prediksi kinerja suatu bahan dalam kemampuan tertentu, yang ideal permukaan benda uji harus dibuat seperti permukaan komponen dalam aplikasi material, baik berkenaan dengan kebersihan, kekasaran serta bahan struktur.

    Pengukuran Luas Permukaan dan Ketebalan yang Memungkinkan
Keakuratan pengukuran ketebalan harus sesuai dengan pengurangan ketebalan yang diharapkan selama pengujian berlangsung.

    Identifikasi Benda Uji

Hal ini penting dilaksanakan dengan tujuan antara lain:
    Agar tidak keliru, sehingga terhindar dari kesalahan analisis hasil pengujian
    Dipakai pada saat pengujian yang memerlukan  banyak benda uji pada beberapa kondisi pengujian
    Pengujian melibatkan banyak orang dalam waktu yang relatif lama
    Ditandai dengan angka/huruf, tidak mengganggu proses pengujian dan tidak hilang selama proses pengujian

    Waktu Pengujian
Lama waktu pengujian untuk jenis pengujian kehilangan berat adalah:
t  =  2000/mpy  (jam)

    Ekspose Benda Uji
Dalam uji laboratorium, sejumlah parameter lingkungan yang harus dikontrol antara lain:
    Benda Uji harus terisolasi satu sama lain, tidak kontak dengan rangka/ wadah yang terbuat dari logam.
    Penataan Benda Uji memungkinkan produk korosi dari satu benda uji tidak mengotori benda uji yang lain.
    Lingkungan korosi harus dapat merata kontak dengan seluruh permukaan benda uji – Cairan elektrolit cukup.
    Benda uji yg berlainan tidak boleh ditempatkan dalam satu wadah.
    Rangka, tali, wadah tidak boleh rusak selama pengujian.

    Perhitungan Laju Korosi
    Gunakan rumus yang sesuai dengan metode pengujiannya – rumus Kcor  dan rumus W loss.
    Penggunaan satuan tidak boleh salah.
    Perhitungan harus teliti.

    Kesimpulan Hasil Uji
Prosedur pengujian korosi yang terakhir ialah membuat analisa dan kesimpulan terkait hasil pengujian korosi yang telah dilakukan.
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.